16 Februari 2008

Pengaruh TV Terhadap Ibu Hamil

Berikut testimoni dan komentar mengenai kaitan menonton TV dan kehamilan.

Nama saya Taufik. Istri saya saat ini sedang hamil 5 bulan dan ini adalah anak pertama, dari kondisi fisik semuanya sehat.
Tapi yang menjadi kekhawatiran saya adalah istri saya jam menonton TV nya terlalu banyak (terutama sinetron-sinetron cengeng) apalagi jika saya sedang di kantor saya tidak bisa mengontrolnya.
Jika dilarang, saya harus memikirkan gimana cara melarangnya, saya tidak mau membuat istri saya tersinggung, maklum saya trauma soalnya waktu hamil bulan2 pertama bawaannya sensitif :)
Saat ini banyak sekali artikel yang memuat tentang Pengaruh TV terhadap anak ini menjadi perhatian buat saya karena saya takut TV berpengaruh juga sama wanita hamil terutama pada perkembangan janin ataupun nanti setelah si anak dilahirkan.
Karena sempat ada yang bilang wanita hamil terlalu banyak nonton TV mengakibatkan si anak menjadi AUTIS
Yang jadi pertanyaan saya apakah pengaruh negatif TV terhadap wanita hamil baik itu untuk si Ibu ataupun si Jabang Bayi.
Saya sangat menunggu respon dari rekan-rekan terhadap ke khawatiran saya ini.

Terima Kasih
Wass

Taufik F.
Respon
Pengaruh Teve
Oleh wiek_s
wah saya pikir kalo yg kita tonton acaranya mendidik bagus lah utk perkembangan anak, bukankah anak sejak dlm kandungan lebih bagus kalo sudah kita ajak bicara, jd sambil nonton teve kita jg kenalkan anak kita dg tontonan2 yg bagus. So, kita hepi... yg ada dlm kandungan jg hepi
kerja di depan komputer berjam-jam
Oleh dedeckkewlen
salam kenal...
wadhuh...
lha klo saya gmn ya?
saya sedang hamil sedangkan kerjaan menuntut saya di dpan komputer terus dr jm 8 pagi mpe 5 sore...palingan istirahat 1 jam...
apa nanti akan ad pengaruhnya pada kehamilan saya?
di tambah lagi sekarang suka mual ngliat komputer........
terima kasih...
Pengaruh TV....
Oleh meliani
Mas Taufik yg lg bingung, Sy dulu wkt lagi hamil, dr awal hamil sampai hamil tua jelang lahiran, wah gemar sekali main komputer(buka-2 situs), dan jg demen banget nonton tv, habis kalau gak gitu, bete banget sih dan malah jd stress, dan hasil nya sy skrg sdh lahiran , anak sy puji Tuhan, sehat dan lincah.
Pengaruh TV terhadap Ibu Hamil
Oleh niecy
kalo menurut saya sih nonton tv itu tidak apa2 yang penting jarak antara tv dan yang nonton itu agak jauh dan kalau malam harus cukup pencahayaan. saya juga lagi hamil nonton tv ga apa2 teman-teman saya yang lain juga banyak yang melakukan hal yang demikian.


sumber: http://www.infoibu.com/mod.php?mod=diskusi&op=viewdisk&did=224

Bolehkah Bayi Nonton TV?


Sebaiknya orangtua menghindarkan sang buah hati yang masih bayi menonton televisi. Terutama jika ia belum berusia 8 bulan. Mengapa?


Pertama, sebab di bawah usia ini, bayi lebih memerlukan hiburan dan latihan melalui kontak fisik. Bukan dengan nonton TV, yang membuatnya cenderung pasif.

Kedua, setelah 8 bulan, bolehlah ia melihat beberapa program TV yang ia sukai. Tapi, ini pun dibatasi 20-30 menit saja sekali nonton. Matikan TV dan alihkan pada aktivitas lain jika perhatiannya pindah.


Ketiga, orang tua juga sebaiknya tidak menjadikan TV sebagai "baby sitter" jika ia sedang sibuk.
TV dan video memang bisa menjadi alat bantu untuk belajar. Namun 2 tahun pertama kehidupan anak disebut sebagai periode sensorik-motorik, yaitu anak lebih banyak belajar melalui interaksi langsung dengan orang serta lingkungannya.


Jadi, membaca dan membolak-balik buku malah lebih bagus dibanding nonton TV. Tapi kalau sesekali nonton sih boleh saja. Cuma ya itu, TV bukanlah medium terbaik untuk belajar.

http://www.mail-archive.com/balita-anda@indoglobal.com/msg04974.html

Mengapa TV Tak Bisa Kritis? (1)

Ketika logika kapitalisme bermain dalam sebuah industri media, maka produk yang dihasilkannya hanyalah berita-berita sensasional atau pun soal-soal rutinitas kerja yang netral gender atas nama produktivitas. Namun, gaya berita semacam itu malah menguatkan stereotipe perempuan sebagai komoditas media massa: baik yang 'dijual' ataupun sebagai 'pembeli'.

Demikian lontaran-lontaran pernyataan dalam dialog terbuka "Perempuan, Media dan Kekuasaan" untuk menyambut Hari Pers Ke-62 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan di Hotel Nikko (13/2/2008). Diskusi itu diawali dengan sambutan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia Dr. Meutia Hatta Swasono yang dibacakan oleh Debra Yatim.

Perempuan dalam stereotipe tersebut sebagai sosok yang lemah, mudah dieksploitasi, dan gampang tersubordinasi. Selain itu, beberapa media massa semacam Femina, Eve, dan Cosmopolitan (media majalah) dan FeMale (media radio) terlihat menjadikan perempuan sebagai sekedar partner atau pembeli program yang mereka produksi, singkatnya bagi media-media di atas perempuan hanyalah dilihat sebagai segmen pasar.

Sedangkan di beberapa media televisi seperti SCTV, Metro TV dan ANTV yang jelas-jelas penanggungjawab editorial adalah para perempuan namun memberlakukan sistem pemberitaan yang netral gender dan "obyektif".

Lantas, di manakah ruang media bagi perempuan untuk bisa memahami secara kritis kondisi perempuan Indonesia yang kerapkali dirugikan dalam wilayah publik? Misalnya diskriminasi oleh peraturan daerah yang berbau syariah, diperjualbelikan dalam praktik tindak pidana perdagangan orang, menjadi korban bermacam-macam kekerasan berbasis gender, dibatasi hak politiknya bahkan hak penguasaan terhadap tubuhnya sendiri.

Jurnal Perempuan tampak menjawab tantangan tersebut. Demikian yang disampaikan oleh Mariana Amiruddin sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan. "Yayasan Jurnal Perempuan melalui media-media seperti jurnal, radio, website, ingin menciptakan dunia yang baru dan dunia yang ramah terhadap perempuan," katanya.

Mariana mencontohkan Jurnal Perempuan sebagai media "nonmainstream" secara khusus menyorot dominasi atau ketidakadilan yang menimpa perempuan dan menginginkan adanya perubahan ruang yang terbuka dan menciptakan audiens yang kritis. Melalui proses kapitalisasi, maka bagi Mariana, media massa mengabdi pada logika waktu dan nurani yang sangat pendek, "logika komersial yang tidak lagi kritis terhadap persoalan perempuan", ujarnya. Logika waktu dan nurani yang pendek itu terpatri pada yang soal-soal yang spektakuler dan superfisial saja.

Di poin inilah Mariana Amiruddin mengajak para jurnalis untuk menulis berita secara kritis. Wartawan seharusnya tak hanya menulis berita-berita yang sudah umum diketahui, penulisan yang tak memiliki tantangan, namun menulis dengan membuka sejarah pembungkaman, dan mendobrak stereotipe. …. (bersambung ke-2)

Mengapa TV Tak Bisa Kritis? (2-Habis)

Kecendrungan sekarang media sangat berpihak pada penguasa (baik itu agensi iklan, dewan komisaris, pemerintah, dan pemodal) dan tidak terlalu aktif memberitakan nilai-nilai hak asasi manusia. Padahal dengan kode etik jurnalisme yang ada, diharapkan semua media mengkampanyekan hak-hak asasi manusia termasuk isu-isu perempuan. Media sekarang menurut Rosiana Silalahi sebagai Editor in Chief Liputan6 SCTV, "media yang sangat tergantung pada modal."

Kendati demikian, bagi Rosiana Silalahi, idealisme harus tetap ada. Wajah keseimbangan media massa harus tetap dijaga. Idealisme inilah yang akan dilahirkan dengan disokong kemapanan dari sisi finansial sebuah perusahaan media.

"Kita tidak boleh melupakan idealisme, namun kita juga tidak dapat memproduksi pemikiran-pemikiran sosial yang kritis jika kita tidak sukses secara komersial," katanya

Soal rating juga menjadi perhatian dalam diskusi tersebut karena bisa menjadi pemicu kerja keras sebuah industri media massa. Sayangnya cara apapun dihalalkan untuk menguasai iklan komersial. Celakanya lagi selama ini survei-survei tentang rating hanya dimonopoli oleh satu lembaga survei saja.

Media massa yang tidak perduli pada perempuan bagi Meutia Hatta disebut industri lanang. Kapitalisme dan patriarki seakan menjadi dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Meskipun jumlah perempuan diakui oleh Desi Anwar sebagai Executive Producer Metro TV sebagai jumlah terbesar yang ada baik di belakang atau di depan layar televisi, namun media massa tetaplah dunia laki-laki. Namun realitas ini menjadi representasi masyarakat yang masih male-oriented. Demikian juga ditegaskan oleh Uni Lubis sebagai Pemimpin Redaksi ANTV, "media-media umum masih di-drive agendanya, dan setting-nya oleh laki-laki," katanya. Hal ini berbeda dari media massa bersegmen perempuan yang umumnya pegawainya mayoritas perempuan seperti Femina dan Cosmopolitan.

Desi Anwar kembali mengungkapkan, "perempuan belum berevolusi ke arah itu (sebagai pembuat keputusan-red)." Perempuan menurutnya, masih menjadi tim pelaksana dalam produksi berita. Ini juga didukung oleh keunggulan perempuan dalam komunikasi, kerja tim, dan perancangan segala sesuatu secara detail. Namun apabila perempuan akhirnya menjadi pemimpin redaksi, pengalaman pribadi dan emosinya seringkali mempengaruhi pengambilan kebijakan.

Hal ini dapat diatasi, menurut Desy Anwar dengan bersikap profesional dalam pekerjaan. Perempuan harus dapat melihat apa yang dimilikinya menjadi aset bagi dirinya dan bukan untuk dilecehkan atau dieksploitasi orang lain. Hal ini berkaitan dengan emosi perempuan yang labil dan cenderung meledak-ledak serta dapat mengganggu pekerjaan, yang bisa menunjukkan kelemahan dirinya sendiri.

Desy Anwar dan Uni Lubis cenderung berpandangan sama bahwa dalam media massa itu segala penilaian terlepas dari bias gender. Menurut Desy Anwar, alur bekerja dengan sensitivitas gender malahan akan memundurkan produktivitas kerja. Hal ini kontras dengan usaha Yayasan Jurnal Perempuan mengkampanyekan jurnalisme berperspektif gender yang bertujuan memberikan ruang yang lebih luas bagi kaum perempuan untuk berbicara.*

http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=berita%7C-954%7CX

15 Februari 2008

TVONE: Jauhi Sadisme, Horor, dan Pornografi


Mulai Kamis ini, 14 Februari, Lativi resmi berganti nama menjadi tvOne. Seiring dengan pergantian nama tersebut, program tayangannya pun dijanjikan akan berubah, yaitu mengedepankan tayangan yang bersifat informatif (70 persen), kemudian sisanya (30 persen) untuk tayangan olahraga dan hiburan/film yang selektif.


Pergantian nama Lativi menjadi tvOne itu dilakukan karena keluarnya Abdul Latief sebagai pemilik PT Lativi Media Karya, perusahaan yang selama ini memayungi Lativi. Dikatakan, mantan menteri tenaga kerja itu melepas kepemilikannya pada PT Lativi Media Karya karena ingin lebih menekuni bisnis inti keluarga Latief, yakni Pasaraya.



Kepemilikan PT Lativi Media Karya jatuh ke tangan Erick (Grup Mahaka) dalam konsorsium 2 pengusaha muda, yaitu Anindya Bakrie (Grup Bakrie) dan Rosan Perkasa Roeslani (Presiden Direktur Rekapital).



Demikian dijelaskan Dirut PT Media Karya, Erick Thohir, perusahaan yang memayungi tvOne dalam penjelasannya kepada pers di Jakarta, Rabu (13/2). Hadir pula dalam kesempatan itu Wakil Dirut A Ardiansyah Bakrie, Direktur Pemberitaan, Olahraga, dan Produksi Sukarni Ilyas, Direktur Teknik Alex Kumara, dan Direktur Keuangan Charlie Kasim. Sedangkan Direktur Program dan Pemasaran dijabat Otis Hahijary.



Menurut Sukarni Ilyas, tvOne akan menjawab kegelisahan, kegeraman, kemuakan, dan kebencian publik terhadap tayangan kekerasan atau sadisme, pornografi, tahayul, dan tayangan yang dianggap melanggar ajaran agama. "Yang akan kami tayangkan bukan paha atau tahayul yang bertentangan dengan agama," ujarnya.



Mengenai rating yang selama ini menjadi ukuran pihak pemasang iklan, Sukarni Ilyas dengan tegas mengatakan bahwa tvOne tidak akan "mendewakan" rating. Meski demikian, dia sangat yakin kalau tvOne dengan tayangan yang selektif dan bermutu, dengan tetap mengedepankan unsur pendidikan, akan mampu memuaskan pemirsanya.



"Yang kita ingin capai adalah imej, bukan rating," kata Sukarni Ilyas. Dia memberi contoh ketika menangani segmen pemberitaan SCTV. "Pada tahun pertama dan kedua memang masih merugi, namun menginjak tahun ketiga, empat, dan lima, segmen pemberitaan SCTV menghasilkan keuntungan sampai 100 miliar rupiah lebih per tahun, mengalahkan pendapatan segmen entertainment. Itu berarti rating tidak segala-galanya," ujarnya.



Sebagai televisi yang mengedepankan program informasi (berita), maka tvOne yang diperkuat 850 karyawan kini telah memiliki 26 stasiun pemancar, dan pada akhir tahun 2008 akan menjadi 37 stasiun pemancar di berbagai daerah dengan jumlah potensi pemirsa 162 juta orang.



"tvOne akan menghadirkan secara langsung berita-berita eksklusif dari biro pusat dan daerah (Medan, Surabaya, Makassar). Kru tvOne harus mampu menyajikan berita eksklusif, bukan berita "gotong-royong" atau berita dari hasil kloning," kata Sukarni Ilyas. (Laurentius Chen)





"Cabe Rawit", Inspirasi dan Informasi Peluang Usaha

Program ini juga menyajikan kegagalan bisnis yang sering dialami pengusaha pemula.

Informasi mengenai peluang usaha kini bukan hanya bisa diketahui dari arena pameran atau seminar, tapi dilayar kaca televisi juga hal itu tersaji dengan lengkap. Bahkan, banyak pengusaha sukses akan berbagi pengalaman dengan pemirsa mengenai cara mengelola perusahaan atau membuka pasar baru.

Semua informasi tersebut dikemas dalam segmen Cabe Rawit (Cara Berpikir Rahasia Wiraswastawan) pada program Liputan 6 Pagi SCTV. Segmen Cabe Rawit yang telah memasuki usia satu tahun pada 19 Februari 2008 nanti, hadir di layar SCTV setiap Senin, pukul 06.05 WIB. Di luar dugaan acara ini mendapat respons sangat positif dari pemirsa. Setidaknya hal itu terlihat dari share yang diraih acara ini, yakni 12,6 persen dari keseluruhan penikmat televisi pada jam tersebut. ''Cabe Rawit dalam setahun lalu telah memberikan 43 inspirasi dan informasi peluang usaha ala jurnalistik televisi SCTV,'' ujar Senior Program Officer Cabe Rawit, Deni Herlambang Slamet.

Cabe Rawit, kata dia, menyajikan pengalaman usaha lewat sebuah karya jurnalistik yang khas yang muncul antara 5 sampai 6 menit pada segmen kelima Liputan 6 Pagi. Program ini tidak hanya memberikan gambaran keberhasilan pengusaha kecil saja, tapi juga cerita kegagalan usaha yang kerap terpinggirkan.

''Layaknya karya jurnalistik, tujuannya tentu merangsang masyarakat untuk tidak mudah menyerah dalam menjalani usahanya dari bawah,'' papar Deni. Para pemirsa Cabe Rawit umumnya didominasi kalangan usia di atas 20 tahun yang terdiri dari beragam status sosial.

Dalam memperkuat program ini, tim Liputan 6 mendapat dukungan data UKM (Usaha Kecil Menengah) dari Swiss Contact, sebuah yayasan swasta dari Swiss yang kerap memberikan bantuan teknis untuk pengembangan UKM di 35 negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kriteria pemilihan UKM untuk segmen Cabe Rawit, menurut Deni, tergantung kepada daya tarik pasang surut usaha sang wiraswastawan. Selain itu, tim Liputan 6 juga melakukan seleksi dan memiliki standar visualisasi sajian yang menarik perhatian banyak kalangan.

Deni memberikan contoh episode CV Lumintu yang berhasil menyulap tube pasta gigi bekas menjadi tas yang memiliki nilai jual. UKM ini bahkan berhasil mendapatkan sebuah penghargaan atas usahanya tersebut dari sebuah perusahaan perbankan.

Menurut dia, tim Liputan 6 Pagi SCTV hingga kini telah melakukan penggarapan segmen Cabe Rawit hingga 58 episode. ''Pada awalnya sebenarnya Cabe Rawit digarap jangka pendek untuk lima bulan. Namun kenyataannya program ini mendapat perhatian khusus dari pemirsa, sehingga Cabe Rawit terus berjalan hingga kini,'' ujar Deni. Ia yakin segmen Cabe Rawit pada tahun keduanya bakal semakin diminati pemirsa.

''Kami akan melakukan terobosan-terobosan yang kreatif untuk menjadikan segmen ini menjadi inspirasi dan informasi peluang usaha. Kami berharap tentunya Cabe Rawit ini akan tetap menjadi tontonan yang menarik bagi pemirsa,'' harap Deni.

Jual sinetron
Senior Manajer Humas SCTV, Budi Darmawan mengatakan pihaknya ingin menjadi stasiun televisi unggulan yang memberikan kontribusi terhadap pembangunan dan pencerdasan kehidupan bangsa. ''SCTV telah menyediakan kepada pemirsa beragam program yang kreatif, inovatif, dan berkualitas yang membangun bangsa,'' ujarnya.

Menurut Budi, SCTV kini menduduki peringkat share televisi teratas lewat empat sinetronnya di jam tayang utama. Stabilnya performa sinetron Azizah mampu diikuti sinetron, Suci, Cinta Bunga, dan Cinta Indah yang pada periode 6-19 Januari 2008 memperoleh rata-rata share 18-19 persen.
Peningkatan performa sinetron tersebut, kata dia, cukup berarti, terutama bagi Cinta Indah yang memiliki potensi pemirsa kuat, seperti halnya Azizah yang angka pemirsanya stabil berada di atas. ''Peningkatan tajam share pemirsa sinetron itu menjadi faktor penting kembalinya SCTV keposisi pertama dengan share audience mencapai 18,4 persen pada minggu terakhir ini,'' ujar Budi.
Keempat sinetron unggulan itu, lanjut Budi, ternyata mampu menduduki 10 besar program dengan potensi pemirsa teratas berdasarkan riset AGB Nielsen. Menurut dia, keempat sinetron yang diluncurkan pada jam tayang utama itu, memiliki beberapa kesamaan. ''Keempatnya memiliki potensi pemirsa kuat di kalangan ibu rumahtangga, pelajar, dan pekerja informal,'' terang Budi. (ruz )

'TV Harus Mendidik'

JAKARTA -- Televisi nasional diharapkan dapat menjadi bagian dari agen perubahan dalam membangun karakter bangsa. ''Televisi memiliki fungsi untuk mendidik. Televisi juga harus edukatif. Dan mampu membangun kecerdasan bangsa itu yang nomor satu,'' kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika meresmikan peluncuran TVOne menggantikan Lativi di Kantor Presiden, Kamis (14/2).

Tayangan televisi yang tidak mendidik, seperti adegan kekerasan, pornografi, maupun yang menuntun berpikir tak rasional, imbau Presiden, harus dicegah dan dikurangi. ''Saya berharap janganlah terlalu vulgar dalam arti menampilkan yang kurang sopan, tidak baik dilihat rakyat kita, termasuk kekerasan, sadisme, maupun tayangan irasional. Ini mesti menjadi kepedulian kita semua.''

Lebih dari itu, papar Presiden, berita-berita yang ditampilkan harus menceritakan kebenaran. ''Rakyat Indonesia, generasi muda, termasuk kita, harus menyadari bahwa di negerinya masih banyak masalah dan tantangan.'' Namun, katanya, harus memenuhi prinsip keseimbangan.

Ketidakseimbangan berita dapat memunculkan persepsi yang keliru. ''Orang luar negeri nanti mengira tiap hari ada kebakaran, kerusuhan, unjuk rasa. Padahal, seimbang betul kehidupan di negeri ini, demokratis.''

Keberhasilan dan prestasi anak bangsa, patut pula diangkat agar bersyukur dan yakin bahwa perjalanan bangsa ini sudah di arah yang benar. ''Itu bagus, sehingga optimistis kita semua.''

Saat hadir dalam peluncuran TVOne di Jakarta Convention Centre, Menkominfo, M Nuh, menambahkan, stasiun televisi harus menghadirkan program-program yang edukatif, pencerahan, serta pemberdayaan masyarakat. ''Fungsi edukasi pada ujungnya mencerdaskan masyarakat serta meningkatkan produktivitas.''

Pemred TVOne, Karni Ilyas, menjanjikan prinsip jurnalisme yang seimbang milik publik. ''Tidak menjadi jaksa bagi seorang terdakwa, tapi tidak juga menjadi pengacara,'' katanya.

TVOne akan berupaya menjadi media yang berguna bagi masyarakat banyak. Semua tayangan akan dikemas secara menarik, enak dilihat, dan membangkitkan semangat masyarakat. ''Kami ingin tampil berbeda dengan yang lain,'' ujarnya.

TVOne akan didominasi siaran berita, olahraga dengan porsi 30 persen, dan sedikit hiburan. Tayangan olahraga diharapkan dapat mengalihkan generasi muda dari narkoba. ''Kami ingin menumbuhkan cinta pada olahraga.'' (akb/has/wed )

sumber: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=323511&kat_id=3

TV One Memberikan Sesuatu yang Berbeda

Stasiun TV menghindari tayangan pornografi atau yang berbau kelik.

Menuju tontonan yang berbeda dan lebih bermutu. Itulah yang akan diusung TV One dalam menggaet pemirsa dan pemasang iklan.

Stasiun TV yang awalnya bernama Lativi ini menjanjikan program-program menarik yang penuh informastif, menghibur, dan sajian beragam peristiwa olahraga dalam dan luar negeri. ''Kami akan memberikan sesuatu yang berbeda di industri pertelevisian Indonesia,'' ujar Erick Thohir, direktur utama TV One dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (13/2).

Perbedaan yang dimaksud oleh Erick adalah keseriusan TV One dalam menerapkan strategi dengan menampilkan format-format yang inovatif dalam hal pemberitaan dan penyajian program. Menurut dia, TV One akan menyajikan komposisi program 70 persen berita, 20 persen olahraga, dan 10 persen hiburan, antara lain film dan musik.

Hadir dalam jumpa pers tersebut jajaran manajemen TV One, yakni Wakil Direktur Utama, Ardiansyah Bakrie, Direktur Pemberitaan, Olahraga dan Produksi, Sukarni Ilyas, dan Direktur, Teknik Alex Kumara.

TV One menyajikan program berita baik dalam bentuk hard news, feature, seperti talk show, maupun informasi yang dikemas dengan gaya santai dan menarik. Salah satu program berita yang telah menjumpai pemirsa Senin (11/2) lalu, adalah Apa Kabar Indonesia.

Program ini dikemas dalam bentuk diskusi ringan dengan membahas topik-topik terhangat bersama para narasumber dan masyarakat. Apa Kabar Indonesia ditayangkan secara langsung pada pagi hari dari studio luar TV One.

Stasiun TV berwajah baru ini juga menghadirkan berita hard news yang tayang lima kali dalam sehari, yakni Kabar Pagi, Kabar Pasar, Kabar Siang, Kabar Petang, dan Kabar Malam. Kelima program berita ini, menurut Erick, disajikan dengan gaya laporan jurnalistik yang inovatif. ''Dalam kemasan Kabar Petang, misalnya, kami akan menampilkan bentuk pemberitaan yang tidak sama dan belum pernah ditampilkan oleh stasiun TV lain,'' ujarnya. Berita tersebut disajikan secara langsung dari biro pusat Jakarta dan beberapa biro di daerah misalnya Medan, Surabaya, dan Makassar, dengan bobot pemberitaan yang berimbang antar semua biro.

''Kami menampilkan peristiwa yang terjadi, beritanya langsung dapat disaksikan pemirsa saat itu juga,'' terang Erick. Untuk kemasan Kabar Malam, lanjut dia, akan menampilkan editorial sejumlah media massa Indonesia.

Olahraga
Selain menjanjikan program berita, TV One, menurut Erick, juga memiliki komitmen besar untuk membangun olahraga nasional lewat sajian Sport TV One setiap hari. Program ini meliputi pertandingan yang disiarkan langsung mulai Kompetisi Sepak bola Nasional (Copa Indonesia), Sepak bola Eropa (Liga Inggris dan Belanda), Kompetisi Bola Basket Nasional (IBL), dan Bola Volly Nasional (Pro Liga).

Yang tidak kalah menariknya adalah program current affairs yang eksklusif dari TV One, seperti Telusur, Kerah Putih, Menyingkap Tabir, dan Mata Kamera. Stasiun TV ini juga menyajikan acara-acara yang menantang dan petualangan yang dikemas dalam Documentary TV One, antara lain bertajuk Nuansa Seribu Pulau, Sahabat Satwa, Panji Sang Penakluk, dan Khatulistiwa. ''Untuk sajian reality show kami menghadirkan tayangan Aneh tapi Ada dan 1001 Isi Dunia,'' paparnya.

Sementara program life style wanita TV One tersaji dalam kemasan Dunia Belanja, Gaya, Home Living, dan Mr Renov. TV One, menurut Erick, hadir untuk merubah pola pikir penonton dengan merubah juga tayangan yang disajikan. ''Kami ingin menjawab keinginan masyarakat yang sangat merindukan tayangan-tayangan yang informatif dan edukatif. Untuk itu TV One hadir dengan konsep menghindari tayangan pornografi dan tontonan berbau klenik,''jelas Erick, yang memastikan seluruh program TV One lebih fresh, lebih youngger dari yang ada.

''Kami berbeda dan akan selalu menghadirkan sesuatu yang baru kepada pemirsa, sehingga mampu memberikan inspirasi bagi para pemirsa untuk maju dan berpikir selalu positif, tanpa unsur membodohi,'' lanjut Erick.

Logo
Filosofi logo TV One, menurut Erick, merefleksikan keinginan untuk kemajuan bangsa. Warna merah dan putih melambangkan Indonesia, lingkaran dengan angka 1 di dalamnya merupakan simbol persatuan. Sedangkan penggunaan kalimat berbahasa Inggris, 'One' menunjukkan kesiapan TV One dalam kancah pertelevisian global, mudah dipahami oleh mitra kerja di luar negeri, serta mencerminkan optimisme kebangsaan sebagai bangsa Indonesia yang ingin maju.

''TV One secara korporasi mempunyai misi untuk mendorong kemajuan bangsa di segala bidang lapisan masyarakat,'' tutur Erick, mengenai TV One yang mengemas program informations, sport, dan entertaiment dengan serius, tapi santai. (ruz )

Kamis, 14 Februari 2008


14 Februari 2008

TVOne akan go public Lepas 30-40% Saham

PT Visi Media Asia sebagai pemegang 49 persen saham PT Lativi Media Karya --pemilik stasiun televisi Lativi yang kini berubah menjadi TVOne-- akan go public dengan melepas 30-40 persen saham pada semester kedua tahun ini. Penawaran saham (IPO) kepada publik ini untuk menggantikan saham yang dilepas pemilik minoritas Lativi.

Pemegang saham Lativi (TVOne) yang lain adalah Redal Semesta (31 persen), dan dua investor asing, yaitu Good Response Ltd dan Promise Rezal Ltd, yang masing-masing memegang 10 persen saham. Menurut Direktur Keuangan TVOne, Charlie Kasim, kedua investor asing ini akan melepas kepemilikan mereka di Lativi.

''Sebenarnya mereka sudah melepas sahamnya. Tapi, masih menunggu efektifnya saja sampai akhir Februari ini,'' kata Charlie, usai jumpa pers peluncuran TVOne menggantikan Lativi, di Jakarta, Rabu (13/2). Menurut Charlie, Good Response dan Promise Rezal mengundurkan diri setelah Lativi mengganti format bisnisnya dari televisi hiburan biasa menjadi televisi yang fokus pada siaran berita dan olahraga, serta mengganti nama menjadi TVOne. Pergantian Lativi menjadi TVOne sudah disiapkan sejak tiga bulan lalu.

Dengan mundurnya pemilik saham minoritas ini, akan terjadi perubahan komposisi kepemilikan saham di PT Lativi Media Karya. Visi Media Asia kemungkinan akan membeli saham yang dilepas Good Response dan Promise Rezal, sehingga menjadi pemegang saham mayoritas dengan 60 persen saham.

''Tapi, masih dalam proses perubahan struktur pemegang saham. Posisi kepemilikan saham akan berbeda lagi pada pra-IPO,'' kata Charlie. Akan ada pengalihan utang ke saham untuk membuat struktur modal TVOne lebih baik lagi.

Dengan keluarnya pemegang saham minoritas dengan melepas 20 persen saham pada Februari 2008 ini, menurut Charlie, IPO akan segera dilakukan pada akhir kuartal kedua atau awal kuartal ketiga 2008. ''Sudah ada investor yang berminat. Dari dalam negeri,'' ujarnya.

Visi Media Asia telah menghabiskan Rp 1,4 triliun untuk melakukan akuisisi, melunasi utang, dan menambah modal kerja TVOne. Hingga 2009, sejumlah Rp 400 miliar akan dibelanjakan untuk perbaikan fasilitas, pembelian alat, dan pembukaan kantor cabang di sejumlah daerah, termasuk biaya kontributor di luar negeri.

Lativi sebelumnya dimiliki oleh keluarga Abdul Latief, mantan menteri tenaga kerja di era Orde Baru yang kini menjadi pengusaha properti. Sebelum diakuisisi, Lativi mempunyai utang Rp 360 miliar di Bank Mandiri yang kemudian dilunasi oleh Visi Media Asia. Kini Abdul Latif tak lagi mempunyai saham di Lativi.

''Keluarga Abdul Latif ingin kembali kepada core bisnis mereka, yaitu properti. Kita lihat Pasaraya kini sudah dibangun kembali. Saya doakan semoga Pak Latif sukses,'' kata Dirut TVOne, Erick Thohir. Dengan membawa brand baru, Erick menargetkan dapat meraup pemasukan dari iklan Rp 275 miliar pada 2008. (rto )

sumber: Kamis, 14 Februari 2008
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=323341&kat_id=3

Super Mama Seleb Show Miskin Etika


Acara Super Mama Seleb Show Indosiar pernah meraih rating tertinggi pada periode tertentu. Tapi, acara reality show melibatkan selebriti itu menuai kritik keras. Poin kritik tertuju pada ucapan, candaan, serta celaan presenter (Eko Patrio dan Ruben) maupun komentator (Ivan Gunawan).

Perilaku mereka, pada saat-saat tertentu, memang keterlaluan dan tak layak tonton keluarga. Bahkan, Ivan Gunawan pernah keceplosan umpatan seputar "kebun binatang" yang tak layak tayang. Untung lekas sadar dan minta maaf. Tak perlu ditulis umpatan tersebut agar kita tak ikut menyebarkan ucapan tak layak konsumsi publik luas.

Akar masalah tayangan reality show terletak pada dipinggirkannya etika. Konsentrasi kru produksi acara (produser, floor director, presenter, komentator) hanya meraih rating. Telah menjadi rahasia umum, kru produksi mengemas acara yang mampu menghibur penonton. Untuk itu, acara menonjolkan adegan yang seru, gila, gokil, dan heboh. Lantas, pengarah studio (floor director) menerjemahkan dengan membangun "konflik" di atas pentas. Caranya, presenter dan komentator didorong melakukan "perang kata" dengan peluru: celaan, cercaan, hinaan, dan tindakan berlebihan.

Bila suasana masih garing-kering, peserta yang latah "dikerjai" habis-habisan, dan nilai kepantasan dan kesopanan diabaikan. Ketika semua terlarut suasana dan terpaut aura "heboh", ketentuan etis dan standar program acara diabaikan.

Demi kenyamanan penonton TV di rumah, ke depan kru produksi harus memperlakukan peserta acara reality show lebih fair, lebih mematuhi etika penyiaran, dan menghormati keragaman nilai/norma penonton. Di sisi lain, penonton perlu memahami bahwa acara reality show bukanlah realita sesungguhnya. Semua isi tayangan pasti direkayasa (by design). Jadi, penonton perlu menyelamatkan diri sendiri dengan cara terus mengasah keterampilan menonton acara TV secara cerdas dan sehat.

Teguh Imawan, Jakarta

TV One Televisi Berita Bergaya Santai

"Program olahraga, film, dan musik juga akan turut menghiasi layar stasiun TV ini."

Anda sudah merasa jenuh dengan tayangan sinetron dan program hiburan pengumbar aurat atau mistik yang kini menjadi jualan utama beberapa stasiun televisi swasta di negeri ini? Atau, Anda justru sangat menginginkan sebuah televisi yang mampu memberi tayangan informatif secara ringan dan santai? Jika hal-hal tadi yang Anda rindukan, maka tak lama lagi dahaga tersebut bakal segera terentaskan.

TV One, sebuah televisi swasta paling anyar di negeri ini adalah jawabannya. TV One merupakan evolusi dari Lativi. Stasiun TV ini dijadwalkan memperkenalkan dirinya kepada para pemirsa televisi di Tanah Air secara resmi pada 14 Februari mendatang.

Karni Ilyas, direktur Pemberitaan dan Olahraga, menjelaskan TV One ini lahir dari sebuah kerinduan masyarakat yang menginginkan tayangan 'sehat'. ''Di sini kita menghindari pornografi, sinetron, dan tayangan-tayangan tahayul,'' kata dia kepada Republika melalui saluran telepon di Jakarta, Selasa (12/2).

Tayangan-tayangan yang disebutkan oleh Karni tadi selama ini menjadi perhatian serius dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). KPI selama ini nyaris selalu memberikan teguran kepada seluruh stasiun televisi swasta yang dianggap banyak melanggar aturan.

Karni yang pernah sukses membangun program news di salah satu stasiun TV swasta di Tanah Air, itu menjelaskan stasiun TV anyar ini nantinya memberikan porsi lebih besar untuk program berita. Dia juga menegaskan TV One ini secara konsep berbeda dengan Metro TV -- stasiun televisi berita yang sudah lebih dahulu mengudara di Indonesia.

Perbedaan itu diumpamakan oleh Karni layaknya persaingan antara CNN dengan Fox. Fox sendiri merupakan televisi berlangganan yang sukses melahirkan program semacam American Idol sampai serial Prison Break yang kini menjadi salah satu program serial unggulan di layar kaca Antv.

TV One, kata dia, digambarkan sebagai Fox versi Indonesia. Sedangkan Metro TV lebih mencerminkan pada gaya pemberitaan CNN. ''Untuk program beritanya kita mirip seperti Fox yang mengemas beritanya lebih santai ketimbang stasiun TV CNN,'' katanya memberi perumpaan.

Sasaran pemirsa
Karni merasa cukup yakin gaya pemberitaan yang dikemas secara santai oleh TV One ini bakal diterima masyarakat Indonesia. Dengan masih penuh percaya diri juga, ia mengungkapkan target penonton yang ingin dibidiknya adalah penonton kelas menengah yang sudah mapan atau A-C. Pengkelasan A - E sendiri berdasarkan labelisasi yang diberikan oleh lembaga riset AGB Nielsen yang merepresentasikan kelas sosial.

''Kita sadar saat ini penonton terbesar TV swasta saat ini adalah dari kelompok D dan E,'' katanya. ''Tetapi kami cukup yakin TV One ini akan bisa diterima oleh penonton A sampai C,'' sambungnya kembali.

Sebagai sebuah tayangan yang memfokuskan berita, Karni mengaku, pihaknya akan mengemas pola pemberitaan dalam beragam metode. ''Mulai dari berita yang dikemas secara buletin, feature, sampai hard news pun ada,'' kata dia.

Walau memberi porsi lebih besar dalam pemberitaan, Karni mengatakan, pihaknya tetap tidak melupakan untuk menyajikan informasi dari dunia olahraga. Untuk program ini, Karni mengaku akan memberikan perhatian besar juga. ''Sekali lagi pengemasannya kita lakukan secara santai saja,'' katanya.

Selain menghadirkan program olahraga, Karni ternyata tetap memberi ruang bagi tayangan hiburan. ''Tetapi kita akan lebih selektif lagi untuk program-program hiburan ini. Yang pasti tayangan hiburan ini akan lebih banyak memberikan seputar informasi dari dunia musik dan film,'' katanya menjelaskan. (akb)
sumber: republika, 13 februari 2008
untuk situs tv, visit http://www.tvone.co.id/

Astro TV Siap Hadapi Kasus Liga Inggris


Kamis, 14 Pebruari 2008


TEMPO Interaktif, Jakarta: PT Direct Vision, operator televisi berbayar Astro TV, menyiapkan sejumlah dokumen untuk menghadapi pemeriksaan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) pekan depan.

Pemeriksaan ini menindaklanjuti laporan dugaan monopoli siaran English Premier League 2007 oleh PT Indosat Mega Media (IM2), PT Indonusa Telemedia (Telkomvision), dan PT MNC Sky Vision (Indovision) mengadukan Direct Vision (Astro TV). Dokumen tadi untuk menunjukkan bahwa tak ada kesalahan atas pola hak eksklusif yang diperolehnya dari ESPN Star Sport (ESS).

Menurut Vice President Corporate Affair Direct Vision Halim Mahfudz, salah satu dokumen yang disiapkan adalah somasi Indovision tertanggal 24 Maret 2006 yang meminta Astro TV menghentikan siaran Liga Italia dan Liga Spanyol. Indovision keberatan karena perusahaan itu pemegang hak siar Liga Italia dan Liga Spanyol dari Sportfive.

"Somasi itu menunjukkan, Indovision mengakui hak eksklusif sudah biasa dalam bisnis ini," kata Halim kepada Tempo News Room di Jakarta kemarin.

Halim menuturkan, kala itu Astro mengambil siaran dari channel televisi swasta Indosiar dan RCTI yang mendapat lisensi dari Sportfive. Akibat somasi Indovision, Astro menghentikan tayangan sepakbola itu.

KPPU menelisik dugaan monopoli penyiaran Liga Inggris 2007 yang dilakukan oleh Astro TV. Dalam pemeriksaan awal, KPPU menemukan pelanggaran Pasal 16 dan 19 huruf a Undang-Undang Anti Monopoli dan persaingan Tidak Sehat Nomor 5 Tahun 1999.

Perusahaan Malaysia induk Direct Vision, Astro All Asia Network, bersama ESS dan Direct Vision diduga melakukan perjanjian yang bisa mengakibatkan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tak sehat. Sedangkan Astro All Asia Network dan Direct dituduh menghalangi pelaku usaha lain untuk melakukan kegiatan usaha yang sama pada pasar bersangkutan.

Tiga hari lalu, KPPU meminta keterangan para pelapor. Indovision mengklaim rugi sekitar Rp 2 triliun akibat ulah Astro TV dan IM2 tekor sekitar Rp 1,3 triliun. Giliran manajemen Direct Vision, Astro All Asia Network, dan ESS akan diperiksa pada Selasa pekan depan.

Sekretaris Perusahaan MNC Sky Vision Arya Mahendra mengakui somasi itu. Tapi menurut dia persoalannya berbeda dengan sekarang. Perbedaannya, Sportfive menawarkan siaran Liga Spanyol dan Liga Italia kepada seluruh televisi. Tapi ESS hanya menawarkan kepada Astro All Asia Network.

Padahal Liga Inggris 2006 ditayangkan oleh semua televisi berbayar. "Tapi pada 2007 ESS menutup kesempatan televisi berbayar lainnya," ucapnya.

Halim mengungkapkan, dalam soal Liga Italia dan Liga Spanyol perusahaannya juga tak pernah menerima tawaran lelang penyiaran dari pemegang lisensi yakni Sportfive. "Tapi kami tak protes seperti sekarang." Ia juga membantah menghalangi usaha pesaing. "Mana mungkin kelinci yang baru lahir dua tahun menghalangi gajah yang lahir lebih dahulu 10 tahun," ujarnya.

Jobpie Sugiharto Agoeng Wijaya



12 Februari 2008

Berita Soeharto, Bisnis, dan Politik


[JAKARTA] Porsi besar pemberitaan mengenai kondisi kesehatan hingga pemakaman Soeharto di media massa nasional merupakan bukti kepentingan politik dan bisnis yang bermain dalam ruang pemberitaan publik. Deputi Direktur Yayasan Science dan Estetika (SET) Agus Sudibyo, mengutarakan hal itu dalam diskusi publik "Overdosis Liputan Soeharto, Televisi Milik Siapa?" di Jakarta, Senin (11/2).


Menurut Agus, pemilihan berita yang mempengaruhi rating pada televisi komersial murni sebagai orientasi bisnis. "Rating berita hanya menghitung jumlah orang yang menonton berita saja, tapi tidak menjawab apa yang ingin ditonton oleh masyarakat, sehingga pemilihan porsi berita berdasarkan rating seharusnya tidak dilakukan," tuturnya.


Dikatakan, porsi pemberitaan yang berlebihan ditawarkan hampir seluruh media massa pada masyarakat, membuat masyarakat tidak dapat memilih variasi isu yang lain, sehingga membatasi ruang publik terhadap satu isu tertentu dan menurunkan kualitas pemberitaan itu sendiri.


"Seharusnya berita untuk publik tidak didominasi oleh satu isu saja, sehingga masyarakat tidak mempunyai pilihan lain untuk memilih tayangan yang ingin mereka lihat," tuturnya.


Agus memberi contoh lain, yakni betapa besar pengaruh pemberitaan ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus membatalkan kunjungan Diplomatik ke Kuala Lumpur hanya untuk menengok kondisi Soeharto. Dampak Yudhoyono mengubah kebijakannya dapat menurunkan kredibilitas pemerintah Indonesia di mata dunia internasional.


Lebih jauh dikatakan, ada dua kemungkinan besar yang berperan dalam porsi pemberitaan berlebih tentang Soeharto. Dari segi rating yang dihubungkan dengan orientasi bisnis semata, pihak stasiun televisi ingin menarik perhatian penonton sehingga mendapatkan share iklan yang lebih tinggi.


Di sisi lain, Agus menilai ada indikasi psikologi politik yang bermain dalam proses pemilihan isu di media massa yang bersangkutan. Secara tidak langsung, tegasnya, media-media yang bermunculan di zaman Orde Baru, khususnya media televisi secara psikologis politik memiliki "rasa terima kasih" kepada Soeharto.


Setelah Orde Baru berakhir, banyak televisi komersial yang mulai muncul. Rata-rata pemilik modal media tersebut merupakan para pengusaha maupun pejabat yang umumnya dianggap "berhasil" memiliki pengaruh di zaman Soeharto.


"Krisis pada media kemudian menjadi partikularisme di saat media itu sendiri seharusnya tidak boleh partikular," katanya.


Keberpihakan


Sementara itu, mantan Pemimpin Redaksi Metro TV, Don Bosco Selamun yang saat ini menjadi anggota Komisi Penyiaran Independen (KPI) juga tidak menutupi adanya kemungkinan pengaruh dari pihak pemilik modal terhadap porsi dan keberpihakan terhadap isu Soeharto. Dia menilai usia muda dari sejumlah stasiun televisi di kancah industri berita nasional saat ini menjadi salah satu faktor penting yang membuat pemilihan isu menjadi seolah-olah tidak dewasa.


"Yang masalah justru pada saat wartawan-wartawan yang saat ini kurang mendalami sejarah panjang Soeharto, sehingga tidak utuh dalam mengambil sudut berita," tutur Don Bosco.


Dikatakan, tuntutan wartawan di lapangan untuk meliput dan mengejar jadwal tayang juga menyulitkan wartawan itu sendiri untuk bersikap kritis dalam porsi pemberitaan.


Arus pemberitaan Soeharto didramatisasi sedemikian rupa, dapat menyesatkan dan mengubah pandangan serta sikap publik terhadap Soeharto itu sendiri. "Sedih boleh, tapi masyarakat juga harus kritis dalam melihat bagaimana sejarah dan kontribusi Soeharto dalam menaikkan utang-utang negara, belum lagi sejumlah kejahatan politik lainnya," tutur Don Bosco.


Menyoal fokus pemberitaan, Agus berpendapat stasiun televisi seharusnya tidak mencampur-adukkan urusan publik maupun pribadi Soeharto. Ketika arus pemberitaan Soeharto kian deras, media juga ramai-ramai mengangkat sisi pribadi dari mantan presiden tersebut seperti keluarga dan kerabat-kerabatnya yang kerap menghiasi layar kaca sepanjang bulan lalu.


"Tidak semua orang suka dengan porsi pemberitaan Soeharto," kritik Agus.


Agus menyesalkan sistem penyiaran nasional yang tidak demokratis, sehingga televisi di daerah pun mau tidak mau membuat porsi yang besar terhadap pemberitaan tersebut. Baik Agus maupun Don Bosco mengisyaratkan, sah-sah saja media bersikap dalam satu masalah, akan tetapi menampilkan keberpihakan dengan porsi pemberitaan yang berlebihan dan isi yang terlalu didramatisasi seharusnya tidak menjadi pilihan. "Opini yang gencar ditonjolkan oleh media dapat menyesatkan publik," tambah Don Bosco. [CAT/N-4]


http://www.suarapembaruan.com/News/2008/02/12/index.html

Gugatan Pailit RCTI Didaftarkan di PN Jakpus


JAKARTA -- Lima karyawan PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) mendaftarkan gugatan pailit terhadap perusahaan televisi swasta nasional tersebut ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Gugatan tersebut disampaikan kuasa hukum lima karyawan RCTI dari Pan & Partners kepada ketua Pengadilan Niaga pada PN Jakpus, Senin (11/2).


Kelima karyawan RCTI yang menggugat pailit perusahaannya adalah Anton K Liat Ratumakin (marketing), Sonny Ginting (promosi), Decquar Juliartono (marketing), Suharmawaty (exim), dan Yaferina (sales).


Salah satu kuasa hukum lima karyawan tersebut, Johnson Panjaitan, menuturkan, kelima karyawan RCTI tersebut termasuk di antara 158 orang karyawan RCTI yang terkena proses rasionalisasi perusahaan (PHK) pada 1999.


Johnson menerangkan, dalam proses hukum sebelumnya di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) pada 1999 dan Mahkamah Agung (MA) pada 2002, para karyawan tersebut memenangkan gugatan hukum kepada RCTI yang memutuskan hubungan kerja mereka. ''Dengan putusan hukum itu sampai saat ini status mereka adalah karyawan RCTI,'' ungkap Johnson, Senin (11/2).


Namun, pihak RCTI sampai saat ini tidak membayarkan gaji kelima karyawan tersebut termasuk THR sejak Agustus 1999. Total kewajiban RCTI yang dinilai Johnson termasuk utang RCTI tersebut mencapai Rp 1,253 miliar.


http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=323040&kat_id=312

'Superstar Show' Mengukur Figur Publik

Reality show pencaraian bakat menyanyi dan tampil memikat di atas panggung semakin marak saja. Dan, pemirsa pun kini semakin menggemari jenis tontonan ini, sehingga mengalahkan pamor dari sinetron yang selama ini merupakan andalan pengelola stasiun TV.

Indosiar, salah satu stasiun TV yang banyak melahirkan acara reality show, kembali menyajikan program baru pencarian bakat bertajuk Superstar Show. Kelahiran tayangan ini tidak lepas dari sukses yang diraih program sejenis, seperti Mamamia, StarDut, dan Supermama Seleb.

''Superstar Show adalah program baru Indosiar yang lahir sebagai pengembangan dari Supermama Seleb. Superstar Show dikemas lebih menarik dan tentunya lebih interaktif,'' ujar Gufroni Sakaril, humas Indosiar. Superstar Show, kata dia, menampilkan para figur publik dengan soulmate-nya, bisa suami istri, teman, adik atau kakak, dan lainnya. Sementara public figure ini mewakili dari berbagai profesi, misalnya dokter, penulis, pengusaha, dan lain-lain.

Pasangan peserta Superstar Show menurut Gufroni, akan dikelompokkan ke dalam lima kategori berdasarkan bidang profesi. Masing-masing kelompok terdiri dari lima pasang. Perubahan yang dilakukan dalam acara ini adalah pasangan duet dari para superstar bukan hanya mama saja, tetapi bisa saja orang-orang terdekat, seperti misalnya ayah, suami/istri, kakak, adik, sahabat, bahkan kekasih hati.

''Intinya, para superstar harus membawa pasangan yang dianggap dekat dengan kehidupannya,'' tegas Gufron mengenai program acara Superstar Show yang aksi perdananya sudah tayang di layar kaca Indosiar pada Rabu (6/2) lalu. Selanjutnya Superstar Show yang disiarkan langsung pada pukul 18.00 WIB akan hadir setiap hari.

Dalam Superstar Show setiap pasangan diwajibkan untuk duet dalam setiap penampilan. Selain itu, pasangan ini akan diuji dalam mengenali sesamanya. ''Mereka akan diukur seberapa jauh dalam mengenal pasangannya,'' jelas Gufron.

Perbedaan lainnya dengan acara sejenis, menurut Gufroni, adalah dalam Superstar Show para voter-lah yang akan menentukan siapa pasangan yang harus tersingkir malam itu. Sebanyak 100 orang voter bukan hanya di studio saja, tetapi juga dari sejumlah kota lain.

Sistem penjurianSistem penjuariannya berbeda dengan Supermama. Supermama ditentukan oleh juri votelock sebanyak 100 orang. Sedangkan Superstar Show jurinya ada di dua kota, masing-masing di Jakarta dan Surabaya, dengan menggunakan SMS. ''Mereka inilah yang disebut voter, penentu pemenang dan siapa yang akan tersingkir setiap malam,'' papar Gufroni. ''Superstar Show ini tentunya akan lebih menarik.''

Salah satu peserta Superstar Show, Sonia Wibisono, mengaku program ini sangat menarik. Keikutsertaannya dalam acara ini selain untuk menambah pengalaman juga menguji keberanian untuk menyanyi di depan publik. ''Waktu ditawarin ikutan acara ini saya sempat deg degan, karena bernyanyi bukan hobi saya, justru saya menghindari nyanyi, karena suara saya tidak bagus,'' ungkap dokter cantik ini.

Tapi, kata dia, setelah mengikuti prosesnya, Superstar Show sangat menarik terutama menguji keberanian dalam penyanyi. Namun, meskipun berusaha untuk tampil maksimal, tetapi Sonia langsung tersingkir di babak pertama, karena mendapat angka terkecil dibanding peserta lainnya. ''Sejak awal saya sudah merasa pesimistis, lantaran punya suara yang pas-pasan. Saya sudah mau menyerah dan yang penting saya sudah berusaha semaksimal mungkin,'' paparnya. (ruz )

Jawaban dari "TPI"

Menanggapi suara pembaca Ibu Fersy Risma Widihapsari yang dimuat di SP tanggal 4 Februari 2008 dengan judul "TPI Lempar Tanggung Jawab", sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas kesetiaannya mengikuti program-program yang diadakan TPI. Kami mohon maaf jika keterlambatan pendistribusian hadiah mengganggu kenyamanan ibu.

Perlu kami jelaskan bahwa untuk proses pendistribusian hadiah memerlukan waktu. Dalam hal ini TPI harus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait seperti pemasang iklan, supplier sebelum hadiah tersebut didistribusikan. Perlu kami tegaskan bahwa dalam proses distribusi hadiah ini kami sama sekali tidak berniat untuk mempersulit apalagi menipu.

Kami mohon Ibu Fersy dapat maklum dan bersabar sampai hadiah tersebut sampai ke alamat Ibu. Sebagai informasi, TPI akan mengirimkan surat resmi kepada para pemenang apabila hadiah tersebut telah siap untuk didistribusikan.


Wijaya Kusuma Soebroto
Corporate Secretary PT Cipta TPI

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/02/12/index.html

Lima Karyawan Gugat Pailit RCTI

TEMPO Interaktif,
Jakarta:Lima karyawan televisi Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) mengugat pailit perusahaan tersebut di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. RCTI digugat pailit karena tidak mau membayar upah dan tunjangan hari raya mereka sejak 1999.
Salah satu kuasa hukum pengugat, Johnson Panjaitan, mengatakan lima karyawan tersebut sampai saat ini masih berstatus karyawan RCTI. Akan tetapi, perusahaan tidak mau membayarkan gaji mereka. "Gaji karyawan yang belum dibayarkan perusahaan dari 1999 hingga Desember 2007 sejumlah Rp 1,230 miliar," kata Johnson Panjaitan, Senin(11/2), lewat sambungan telepon.
Mereka yang mengajukan gugatan pailit adalah Anton KL Ratumangkin dan Decquar Juliartono dari bagian marketing, Soni Ginting dari promosi, Suharmawaty dari bagiam exim, dan Yoferina dari bagian sales.Mereka menganggap gaji yang belum dibayarkan tersebut sebagai hutang perusahaan. Akan tetapi, dalam Laporan Keuangan Konsolidasi (Consolidated Financial Statements) PT.Media Nusantara Citra tbk periode yang berakhir 30 September 2007. Mereka mengganggap perusahaan tidak mampu membayar kewajiban utang pada karyawan sebagai dasar gugatan pailit tersebut.
Sebenarnya, gugatan pailit tersebut merupakan buntut perselisihan RCTI dengan karyawannya yang sudah berlangsung sejak 1999. Ketika itu, RCTI memecat sekitar 300 karyawan mereka dengan alasan krisis keuangan. Putusan itu kemudian digugat oleh sejumlah karyawan ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara. Vonis PT TUN memenangkan gugatan karyawan lantaran menejemen tidak bisa membuktikan krisis.
RCTI diwajibkan mengembalikan apa yang menjadi hak karyawan sejak putusnya hubungan. Tidak terima dengan putusan tersebut, tim kuasa hukum RCTI kemudian mengajukan kasasi. Namun, pada tahun 2002, vonis Mahkamah Agung justru memperkuat putusan PT TUN. "Namun manajemen RCTI tidak melaksanakan putusan kasasi tersebut," ujar Johnson.
Manajemen RCTI tidak mau diwawancarai mengenai gugatan pailit tersebut. "Kami sudah laporkan ke atasan, tapi mereka tidak mau diwawancara untuk persoalan itu," kata salah satu petugas bagian humas lewat telepon.
Sutarto

Sisi Buruk Film Kartun


Oleh Teguh Imawan, direktur KameliaTV



Tayangan film kartun Naruto di televisi swasta nasional disinyalir menjadi penyebab Kematian Revino Siahaya, anak berusia 10 tahun, yang bunuh diri akibat meniru gaya dalam film kartun Naruto. Kasus mengenaskan di Semarang Jawa Tengah pada awal tahun 2008 ini dalam proses investigasi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
Terlepas dari ada atau tidak adanya pengaruh Naruto terhadap kematian Revino, kasus ini memperlihatkan kembali kepada publik luas betapa tayangan film kartun memiliki pengaruh buruk terhadap perilaku anak.
Catatan itu menjadi penting diangkat karena selama ini masyarakat cenderung memandang film kartun merupakan komsumsi aman untuk anak. Padahal, banyak film kartun yang isinya dominan nilai negatif dengan menekankan tokoh kartun menyelesaikan persoalan dengan cara-cara kekerasan. Sehingga pesan utama tayangan adalah: kekerasan wajib dibalas kekerasan!.


Efek Buruk
Kesimpulan berbagai riset intensif mengenai kekerasan tayangan televisi di Amerika Serikat (eksperimen laboratorium, eksperimen lapangan, longitudinal/efek jangka panjang, dan analisis meta/prosedur statistik) menandaskan, anak yang menonton kekerasan di televisi secara potensial akan mengalami tiga efek buruk.
Pertama, meningkatnya sikap antisosial atau perilaku agresif. Kedua, rasa tumpul terhadap kekerasan yang ditandai semakin bisa menerima kekerasan di dunia nyata dan terkikisnya rasa peduli kepada orang lain. Ketiga, meningkatnya rasa takut seseorang sebagai korban kekerasan.
Brad Bushman dan L. Rowell Huesmann dalam “Effects of Television Violence on Aggresion” (2001) menegaskan, anak usia kurang dari 7 (tujuh) tahun amat rentan menonton adegan kekerasan di televisi, karena mereka ini cenderung menganggap fantasi dan kekerasan kartun sebagai kenyataan. Kesimpulan ini mengukuhkan pernyataan bersama Komunitas Kesehatan Publik (Public Health Community) Amerika Serikat pada Juli 2000: “Sudah saatnya ditegaskan adanya hubungan sebab akibat antara kekerasan tayangan dengan perilaku agresif anak”.
Kalau kita kembali ke Indonesia dan merekapitulasi acara film kartun di televisi swasta nasional, berdasar jadwal tayangan acara 5 - 20 Januari 2008, terlihat enam stasiun TV (antv, TPI, RCTI, Indosiar, Trans7, dan Globaltv) menayangkan acara film kartun. Melalui enam stasiun televisi tersebut, dalam seminggu dapat disaksikan sebanyak 212 episode atau 30 episode per hari.
Stasiun Antv, misalnya, menayangkan film kartun berjudul Poochini, Popeye Original, Fantastic Four, Transformens, Zoids, dan Mask Rider Blade. TPI menghadirkan Petualangan Olly, Hamtaro, Casper, Tom & Jerry, Harveytoons. Indosiar menyiarkan The Justirizer, Machine Robo Rescue, Initial D, Sazer-X, CUE, B-Daman Fire Spirit, Pokemon 5, Bakugan Battle Brawler, Detective Conan, Power Ranger Space Patrol, Dragon Ball, Naruto 4, Power Ranger Mystic Force, serta Masked Rider Ryuki. Sedangkan Trans7 menyajikan Tom & Jerry, Scooby Doo, Teen Titans. RCTI yang hanya menyiarkan film kartun di hari Minggu, menayangkan Tom & Jerry, Doraemon, dan Crayon Sin-chan.
Globaltv, selain menyajikan Naruto, menayangkan juga Danny Phantom, Spongebob, Chalkzone, Avatar, Oh Yeah Cartoon, Jimmy Neutron, Teenage Robot, Ultraman Cosmos, Captain Tsubasa, Ultraman Gala, Skyland, serta Shaolin Wujang.
Kalau setiap episode film kartun memakan waktu 30 menit atau 0.5 jam, maka dalam seminggu layar kaca nasional mengalokasikan waktu 106 jam, atau 15 jam/hari. Dari total 15 jam tayangan film kartun itu, selama 7 (tujuh) jam tayangan berada di Globaltv dengan menyuguhkan 14 episode film kartun/hari.


Corak Kekerasan
Kalau mengamati isi tayangan film kartun secara umum yang diputar televisi swasta nasional, masih dijumpai pemakaian bahasa tak mendidik anak, misalnya “kiss my butt" ("cium pantat saya"). Kekerasan verbal berupa kata kasar seperti itu diperkental dengan aneka umpatan, hujatan, kecaman, maupun hinaan.
Belum lagi penayangan adegan kekerasan fisik berupa adegan tabrakan maupun merusak barang/bangunan dengan cara membanting, menginjak-injak barang. Kekerasan berikutnya adalah perkelahian tanpa senjata (pukul, tendang, banting, cekik, tampar), perkelahian dengan menggunakan benda tumpul (tongkat kayu, palu, batu, dan sejenisnya), serta perkelahian dengan menggunakan benda tajam (pisau, belati, pedang).
Eskalasi kekerasan fisik terus dipertinggi melalui adegan tembak-menembak dan adegan menggunakan bahan peledak. Bahkan, untuk kepentingan dramatisasi tak jarang ditampilkan tubuh terluka dan/atau tubuh berdarah (lelehan, tetesan, kucuran, muncratan). Dijumpai pula film kartun yang menyajikan detik-detik sang tokoh jahat menjelang ajal, dengan memperlambat gerak (slowmotion), setelah ditusuk pedang, korban perlahan-lahan tersungkur dan tak bergerak lagi.
Seluruh corak dan jenis tayangan meminggirkan nilai hidup dan kemanusiaan itu telah menjadi menu makanan sehari-hari kesadaran anak.


Sikap Penonton
Lantas, apa yang dilakukan penonton menghadapi tayangan kekerasan di televisi yang membawa efek buruk bagi anaknya?
Tiada pilihan lain, pertama, penonton (khususnya orangtua) harus peduli risiko efek buruk bila anak menonton tayangan kekerasan televisi. Kedua, orangtua perlu memberi pemahaman mengenai konteks tindak kekerasan tayangan dengan menekankan bahwa setiap kekerasan penjahat pasti dihukum setimpal, dan karena itu anaknya tak boleh mencontoh dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, wawasan anak diasah untuk membedakan dunia khayal film kartun dengan dunia kenyataan. Hal itu menuntut orangtua memperkaya diri dengan informasi tayangan yang ditonton anaknya. Serta tetap menghindarkan anak dari guyuran tayangan kekerasan berlebihan (eksplisit, vulgar, dan sadis).
Harus diakui, orangtua kian berat menghadapi tayangan televisi dalam konteks melindungi dan mencerdaskan anaknya. Penyebabnya, pengelola televisi nasional di Indonesia belum sepenuhnya mengikuti ketentuan standar program siaran. Misalnya, pengelola stasiun televisi tidak mencantumkan informasi penggolongan program. Padahal, regulasi menggariskan bahwa informasi penggolongan program harus terlihat di layar televisi di sepanjang acara berlangsung untuk memudahkan khalayak penonton mengidentifikasi acara.
Apalagi, rumusan definisi kekerasan dalam standar program siaran KPI begitu longgar, sehingga acara kekerasan gampang lolos tayang. Jadi, telah saatnya penonton televisi memberdayakan diri sendiri dengan hanya menyaksikan tayangan program acara yang bermanfaat. –

TAYANGAN NARKOBATAINMEN


Oleh Teguh Imawan


Ditangkapnya sejumlah artis dan selebriti tenar karena kasus narkoba telah membuat hiruk-pikuk infotainmen layar kaca. Awak media berita hiburan televisi seolah menemukan satu lagi aspek nilai tayang, yakni narkoba, selain pacaran, kawin, nikah, selingkuh, berebut anak, talak, dan cerai.
Karena narkoba, kehidupan pribadi dan keluarga artis diumbar ke publik. Ada infotainmen yang leluasa "menginterogasi" masa lalu artis yang kelam melalui kronologi. Potongan-potongan ucapan, gelagat, tindak-tanduk artis dikait-kaitkan dengan kasus narkoba yang menimpa.
Bila ada artis ditangkap aparat saat memakai narkoba, tayangan infotainmen niscaya menggiring ingatan penonton ke kasus yang dialami Zarima Mirafsur, Polo, Rivaldo, Gogon, Derry, Gary Iskak, Hengki Tornado, Alda Risma, Novi Ardana, Ari Lasso, Hedi Yunus, Fariz R.M., Roy Marten, Ahmad Albar, dan lain-lain.
Liputan artis bernarkoba cenderung membingkai petaka artis sebagai "penglaris". Duka keluarga diolah untuk memikat pemirsa. Awak infotainmen pun bersemangat memburu, mencegat, dan mengintai sanak keluarga. Bahkan, secara cerdik, mereka mengambil gambar artis dalam ruang tahanan demi mengejar citra eksklusif liputan.

Karakteristik
Bila mengamati isi tayangan berbagai judul acara infotainmen televisi, ada semacam keseragaman karakteristik. Pertama, pembawa acara/presenter/host cenderung "mengolok-olok" dan merendahkan narasumber yang diberitakan. Terlebih pada artis yang terjerat narkoba lebih dari sekali. Ungkapan, ibarat, dan analogi yang menggambarkan keledai saja tak terperosok di lubang yang sama dipilih sebagai perangkat "mengolok-olok".
Tak jarang, presenter membuka acara dan mengantarkan paket tayangan dengan ucapan memanas-panasi (provokatif-insinuatif) ataupun menghakimi dengan mengulang-ulang julukan.
Misalnya, dalam kasus penangkapan Ahmad Albar, narator infotainmen mengatakan, "Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya penuh dengan prahara. … Rocker gaek berusia 61 tahun itu dicokok bersamaan dengan dilibasnya jaringan narkoba internasional yang melibatkan sindikat negeri jiran Malaysia."
Pada kesempatan lain, presenter memeragakan mimik wajah, lagak/gerakan tubuh, dan/atau intonasi yang tanpa disadari, presenter tampak "menikmati" penderitaan objek berita.
Kedua, narator (pembaca) berita menggunakan frasa atau kalimat yang menggiring opini penonton mengambil kesimpulan tertentu secara tidak adil. Ketika menayangkan kasus Roy Marten, frasa "Pemeran film Cintaku di Kampus Biru" dan "bintang film tenar tahun 80-an" kerap dimanfaatkan untuk mengontraskan dengan situasi terkini yang dialami Roy Marten dalam ruang tahanan dan ketidakmungkinan terjun ke dunia hiburan.Cara lain adalah presenter mengutip sebagian keterangan narasumber yang mendukung kebenaran sudut pandang beritanya sehingga isi kutipan tak mencerminkan pendapat utuh yang bersangkutan.
Ketiga, ketika pihak aparat belum memberikan keterangan pers, tayangan "narkobatainmen" menurunkan berita dengan bersumber dari pihak yang tak jelas identitasnya. Sebagai penggantinya, dipilih kata/istilah/frasa seperti: "konon", "sas-sus", "kabar burung", "rumor", "kabar santer", "santer terdengar di media", "kabar beredar", "kabar angin", "entah siapa yang mengembuskan".
Keempat, kurang menghormati hak narasumber untuk tidak menjawab pertanyaan. Awak pekerja "narkobatainmen" melakukan doorstoping/pencegatan/menghadang artis yang enggan diwawancarai/menjawab.
Dalam banyak kasus, gambar hasil kamera bergerak tak tentu arah (camera moving) disiarkan untuk menggambarkan "keributan" suasana penangkapan artis. Bila gambar terbaru tidak diperoleh, tayangan memutar kembali cuplikan dokumentasi untuk mendukung jalan cerita yang dikembangkan.
Kelima, fokus liputan hanya membeberkan fakta yang kasat mata, seperti aparat menggelandang artis, situasi ruang aparat, rumah artis yang sepi, menanyai tetangga dan rekan kerja, serta nilai kerugian akibat putus kontrak sinetron, iklan, dan tur musik.
Keenam, untuk mendramatisasi tayangan, tak jarang dilakukan manipulasi suara/audio/musik/visual untuk mengesankan rasa sedih, gembira, marah, kecewa, menangis, dan sebagainya. Dengan memanfaatkan kecanggihan peralatan komputer penyuntingan dapat dibuat efek slowmotion-speedmotion (melambatkan/mempercepat gerak), frame (membingkai), blurr (memburamkan), maupun animasi sehingga tayangan merebut mata dan mengaduk-aduk emosi.
Ketujuh, "narkobatainmen" menjadikan lirik lagu ciptaan artis dan musisi yang ditangkap sebagai pengiring suara. Bila Ahmad Albar tertangkap, back sound tayangan adalah lagu Panggung Sandiwara. Saat memberitakan (almarhumah) Alda Risma, lagu Aku Tak Biasa disisipkan. Demikian pula lagu Barcelona dipakai sebagai ilustrasi suara tayangan musisi Fariz R.M. Kalau pemain sinetron, disisipkan adegan-adegan sinetron yang dibintanginya.

Tantangan
Begitulah, acara televisi berupaya memberitakan secara menghibur para artis pemakai narkoba. Logika rayuan sensasionalitas, berikut turunannya seperti dramatisasi, telah melahirkan siaran berkarakter "narkobatainmen".
Tantangan utama "narkobatainmen" adalah bagaimana memproduksi paket tayangan seputar artis tersangkut narkoba secara menghibur tanpa harus menutup masa depan artis dan melukai perasaan keluarganya.
Pada tataran ini, perlu ditawarkan model tayangan yang tidak hanya memuja visual dramatis sensasional detik-detik penangkapan artis, tapi juga perlu mengangkat derita batin artis. Kecuali itu, tayangan patut menyajikan bagaimana perjuangan keluarga kerabat artis menyembuhkan artis dari kecanduan narkoba.
Dari sisi penonton, selayaknya membuka cakrawala pikiran dengan melihat sebanyak mungkin acara narkoba di berbagai stasiun televisi. Hingga pada akhirnya, penonton dapat selektif, kritis, dan mencari tayangan narkoba yang lebih berkualitas. Misalnya, mengaitkan liputan dengan aspek perdagangan ilegal narkoba sebagai bisnis paling menguntungkan di Indonesia atau jalur distribusi gelap jaringan sindikat narkoba, serta fenomena sejenisnya.—

Jawa Pos, Rabu, 05 Desember 2007, halaman opini

KEMATIAN SPIRITUALITAS RAMADAN

Oleh Teguh Imawan

Tayangan Ramadan di layar kaca telah membuat kalangan masyarakat meradang. Sebagai wakil masyarakat, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai masih banyak program siaran televisi nasional yang kurang pas bagi umat Islam, khususnya berkaitan dengan dimensi, yaitu pornografi, kekerasan, dan mistik.
Hasil pemantauan MUI terhadap program siaran televisi swasta yaitu SCTV, TPI, RCTI, Indosiar, Trans-7, ANTV, Lativi, dan Global TV pada sepuluh hari pertama Ramadan memperlihatkan, ada sinopsis, penampilan, adegan, atau dialog yang kurang pas mendukung Ramadan. Bahkan, sekitar 90 persen tayangan televisi dapat meningkatkan dan mendorong budaya pacaran kepada anak sekolah atau remaja.
Dicatat pula, ada tayangan televisi berbau mistik mendekati musyrik, tetapi menampilkan sosok ulama, ustad, dan masjid sebagai cara mengakhiri kemusyrikan dan hal ini cenderung melecehkan umat Islam, apalagi ditayangkan pada bulan Ramadan.Ironisnya, siaran yang dinilai MUI tak layak tonton tersebut diklaim digemari penonton/populer. Misalnya, sinetron Cowok Ideal dan Cinta Lama Bersemi Kembali ditayangkan SCTV. Atau, sinema asyik Legenda Buta Kala (TPI), Stasiun Ramadhan di RCTI.
Sedangkan tayangan Indosiar (Sinetron Keluargaku Harapanku, Stardut, sinetron Kisah Cinta Aladin dan Jasmin, layar Indonesia Dimas Anak Ajaib, sinetron Sumpah Nyai Telaga, dan sinema utama Tragedi Cinta Jaka Tingkir), Lativi (Sinema pagi Lost in Singapore, sinema Indonesia pagi Warkop DKI), Trans 7 (Empat Mata, Gosip Pagi, Empat Mata Sahur, Rumpi), ANTV (Film India Kayamath, Seleb Dance, Silat Lidah), serta Global TV (MTV Video Klip dan program siaran langsung).

Jalan Kritis
Mulai 2007 ini, pengurus MUI lebih memilih jalan kritis menyikapi televisi, yaitu memantau tayangan dan melaporkan temuan ke Komisi Penyiaran Indonesia. Tahun-tahun sebelumnya, MUI memilih metode apresiatif, berupa pemberian penghargaan/award. Dalam pandangan MUI, pemberian anugerah ke sejumlah acara televisi tidak efektif memperbaiki kualitas acara.
Respons pengelola televisi dalam menyikapi kritik MUI itu bercabang tiga. Pertama, program televisi yang menunjukkan niat baik membenahi program dengan porsi amat terbatas, khususnya pada siaran acara langsung (live).
Kedua, program televisi yang tidak menunjukkan pembenahan berarti, bahkan makin menjadi-jadi penampilan program bernuansa kekerasan, mistik, dan eksploitasi rangsangan seksual.
Ketiga, program televisi yang sejak awal Ramadan mengedepankan program yang konstruktif dan kondusif bagi ibadah Ramadan. Paling tidak, minim sekali indikasi pelanggaran terhadap UU Penyiaran.
MUI mengakui, kritiknya bukan untuk membunuh industri televisi. Namun, sebagai bentuk kepedulian mengembangkan televisi yang bermartabat dan bermanfaat. Apalagi data Nielsen Media Research mengungkapkan, jumlah penonton saat santap sahur (03.00-05.00 WIB) meningkat 12 kali lipat (1.200 persen) dan meningkat 35 persen waktu berbuka puasa (17.00-19.00 WIB).
Bila dilihat dari usia penonton, pada waktu sahur, jumlah penonton anak (5-14 tahun) meningkat 22 kali lipat (2.200 persen) dari periode reguler. Pada saat berbuka puasa, jumlah pemirsa anak meningkat 50 persen. Maknanya, acara Ramadan perlu menghargai dan menghormati kepentingan penonton anak.

Posspiritualitas
Kalau ditelaah lebih mendalam, acara Ramadan di televisi tersebut memperlihatkan sebuah kondisi ketika yang kita sebut suci dicemari oleh yang kotor, yang spiritual dinodai oleh yang material, yang Ilahiah ditulari oleh yang duniawi. Sebuah percampuran entitas, peleburan esensi, dan sekaligus persimpangsiuran nilai.
Kondisi bercampurnya nilai-nilai spiritual dengan nilai-nilai materialisme, bersekutunya yang duniawi dengan yang Ilahiah, bertumpang tindihnya hasrat rendah dengan kesucian, sehingga perbedaan di antara keduanya menjadi kabur, itulah yang dinamakan posspiritualitas (Yasraf A. Piliang, 2005).Wacana posspiritualitas menjadikan kontradiksi sebagai ruang hidup dan prinsip utama. Tak bisa dipungkiri, perkembangan masyarakat kontemporer ditandai dengan terseretnya realitas ritual keagamaan (puasa) ke dalam ruang pengaruh budaya populer, sehingga seseorang terjerumus ke pusaran sifat dangkal dan artifisial untuk menjauh dan terpental dari makna hidup dan nilai-nilai hakiki. Idealnya, nilai-nilai Ramadan tidak mendangkalkan ritual dan mencabut makna hakikinya.
Tayangan Ramadan televisi itu hanyalah secuil contoh dari membaurnya gaya hidup dengan ritual dalam kehidupan masyarakat modern. Contoh lainnya, nanti dapat dijumpai pada berbagai ritual keagamaan, seperti Lebaran, haji, zakat, sampai wacana keagamaan di talk show keagamaan, maupun perayaan hari besar keagamaan.
Di satu pihak, televisi merupakan mesin penyebar nilai spiritualitas, tapi sekaligus ia bertindak sebagai wahana berlangsungnya pemalsuan, pendistorsian, dan penyelewengan. Dalam tayangan Ramadan, misalnya, berbagai bentuk wacana spiritualitas seakan menawarkan jalan pencerahan jiwa, tapi pada saat yang sama sedang berlangsung proses memerangkap gaya hidup konsumeristis.
Berbagai bentuk kemasan citraan dan gaya hidup, seperti menu buka puasa, busana simbol kesalehan, parsel, paket liburan, dan berbuka bersama artis kini menjadi bagian dari ritual keagamaan. Sebuah kegiatan ritual itu lantas digiring ke dalam perangkap kultur populer, lengkap dengan manipulasi artifisial, permainan bahasa, dan citra sebagai cara menciptakan imajinasi kolektif. Kesemuanya itu hanyalah cara jitu mengomodifikasi kesucian.
Dalam bingkai sosiologi media, kalau kembali mencermati langkah MUI, maka sikap kritis MUI merupakan upaya mengembangkan budaya tanding (counter culture) menghambat percepatan pembauran negatif antara spiritualitas dan material. Sekaligus, mengajak penonton bersikap analitis dan selektif mengonsumsi tayangan agar (anak) tidak hanyut oleh mesin penebar hasrat rendah.

Jawa Pos, Rabu, 10 Oktober 2007, halaman opinihttp://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=307573

ASPEK RELIGI MENJADI JURU KUNCI


Oleh Teguh Imawan


Sebagian penonton televisi yang rindu sajian acara yang nyaman di bulan Ramadan kembali menuai kecewa. Harapan memperoleh program acara yang menghibur lahir dan batin di saat berbuka dan sahur puasa, tampaknya, masih jauh dari harapan.

Pasalnya, isi acara yang dikhitmadkan menemani penonton televisi lebih mengutamakan cengengesan ketimbang pencerahan.Seperti penayangan acara di tahun-tahun sebelumnya, acara televisi pada bulan Ramadan dibanjiri tayangan yang kurang religius.

Bahkan, cenderung mengurangi spirit dan tujuan hakiki ibadah puasa itu sendiri.Dengan alasan untuk menemani pemirsa yang sedang berpuasa agar tidak ngantuk, tayangan kuis dan komedi menguasai layar kaca. Meski nama acaranya dilabeli kata "Ramadan", dapat dikatakan dari segi isinya, tayangan sinetron, bincang-bincang, komedi, serta kuis tersebut nyaris tak mengandung nilai religius.

Kalaupun dikuantitatifkan, aspek komedi yang dibangun melalui unsur cengengesan, canda berlebihan dengan mengumbar rentetan kata kasar yang tak pantas disuguhkan saat Ramadan, sebanyak 99% dari keseluruhan durasi tayangan, sedangkan sisanya, 1 (satu) persen waktu dialokasikan untuk nilai religius. Sehingga kesan yang kental adalah bahwa keberadaan religiusitas dalam tayangan acara Ramadan tak lebih sebagai bumbu belaka.


Selera Pasar

Ramadan tak hanya menjadi berkah bagi umat Islam, tapi juga bagi stasiun televisi. Bila dalam bulan biasa, stasiun televisi hanya mendapat satu waktu prime time (jam tayang utama, antara pukul 18.00-22.00), maka di bulan Ramadan televisi memperoleh dua waktu prime time, yakni periode waktu jelang berbuka puasa (16.30-18.30) dan waktu sahur (02.30-04.30).

Buah manis kehadiran dobel prime time adalah berlipatgandanya iklan yang diputar dan berimbas pada perolehan dana iklan yang masuk kantong pengelola televisi. Namun, di situlah dilemanya, pengelola televisi selalu dituntut untuk menyajikan sesuatu yang bisa menghibur sekaligus menuntun berbagai kalangan.

Menghadapi tekanan seperti itu, pengelola televisi cenderung bersandar pada rumus: televisi memang media massa yang berupaya menyenangkan semua pihak, dan terlalu mahal untuk hanya menyenangkan kalangan tertentu. Tegasnya, televisi harus selalu membuat acara yang tidak hanya memuaskan puluhan hingga ratusan ribu orang, tapi jutaan orang.

Karena ukuran mutu hiburan adalah yang menyenangkan jutaan orang, televisi mau tak mau harus berkonsultasi dan bercengkerama dengan pasar. Sudah bukan menjadi rahasia lagi, betapa banyak pekerja televisi yang frustrasi menghadapi kenyataan pahit. Khususnya ketika acara kreatif yang dipandang mencerahkan pemirsa, tak disambut pengiklan, hanya karena acara yang diajukan tak ada bau-bau komedi yang telah teruji memperoleh rating (ditonton pemirsa).

Kecuali itu, selain harus disesuaikan dengan selera massa, acara Ramadan memang tak berani menabrak suasana "kebatinan" umat Islam yang bertalian dengan kontroversial (poligami), tabu, sensitif, maupun yang dikhawatirkan dapat menyinggung kalangan tertentu.





Pengunci Acara

Pada Ramadan 2007 ini, kentara sekali bagaimana pengelola televisi dan pengiklan terkesan tidak mengakomodasi kehadiran sosok yang kontroversial tersebut pada acara Ramadan.

Beberapa acara Ramadan di stasiun televisi, misalnya, dapat disaksikan pada "Saatnya Sahur Kita" TransTV dengan didukung artis seperti Komeng, Okky Lukman, Olga, Adul, Ramzi, dan Luna Maya. Trans7 dengan "Empat Mata Sahur" yang diputar setiap pukul 02.00 menceritakan kesibukan di balik layar sebuah tim produksi stasiun televisi yang mengelola program.

Demikian pula, Indosiar yang menyajikan program "Pentas Saat Sahur", dengan mengarahkan isi acara pada kompetisi remaja mengekspresikan diri dalam bidang musik dan komedi. Melalui Pentas Saat Sahur, pemirsa akan disuguhi kisah-kisah yang patut dijadikan teladan dengan penyampaian yang berbeda, unik, santai, dan sederhana.

Materi yang dibawakan berasal dari kisah yang biasa terjadi dalam kehidupan nyata.Untuk memeriahkan suasana tiap episode akan diramaikan dengan live musik, komedian, penyanyi yang akan membawakan lagu religi, kuis interaktif, tarian religi dari beberapa daerah, dan 15 orang juri yang terdiri atas bermacam-macam profesi namun mempunyai kompetensi agama Islam.

SCTV menampilkan sinekuis Para Pencari Tuhan. Kuis interaktif seputar sinetron Para Pencari Tuhan ditayangkan setiap hari pada pukul 02.30-04.00. Acara ini akan dibawakan Grup Bajaj yang terdiri atas Aden, Isa, dan Melky serta bintang tamu.

Demikian pula, acara bertajuk "Stasiun Ramadhan (STAR)" RCTI, dominan nuansa komedi ketimbang nilai religi. Hampir semua komedian papan atas jagat hiburan meramaikan panggung acara, seperti Eko Patrio, Tukul, Tessy, dan Ulfa. Banyolan, cengengesan, dan kuis interaktif menjadi menu andalan mengasupi selera massa penonton. Sedangkan siraman rohani menebar nilai keramadanan ditaruh pada menit-menit akhir dan menjadi juru kunci acara.




Ajak Konsumtif

Melihat tren acara Ramadan, sungguh susah memperoleh tayangan acara religius yang bermutu dan bermanfaat. Harapan kepada televisi bisa menghadirkan acara yang mengandung unsur education, empowerment, dan enlightenment sulit diejawantahkan.

Acara Ramadan yang mendidik, memberdayakan, dan mencerahkan pemirsanya, tampaknya, masih kalah pamor bersaing dengan humor/komedi/kuis.Momentum Ramadan belum bisa "memaksa" pengelola televisi menghadirkan kemasan acara religius dalam konteks membangun ketakwaan, yang menancapkan fondasi dan spirit mengendalikan diri lahir maupun batin.

Alih-alih mengajak penonton berjuang mengendalikan diri, justru acara televisi mendikte pemirsanya mengobral pulsa melalui segmen kuis interaktif bertarif premium.

Dalam logika layar televisi, datangnya bulan suci Ramadan belum dijadikan momentum membantu pembentukan akhlak bangsa, tapi masih menggiring semua menjadi bangsa yang konsumtif. Semoga tahun depan tidak demikian adanya. -


Jawa Pos, Rabu, 19 September 2007, halaman opini

"CASH & CARRY" VS RELOKASI PLUS

Oleh Teguh Imawan


Warga Perumahan Tanggul Angin Sejahtera (TAS) Sidoarjo sedang berjuang menuntut haknya dengan mengusung slogan cash & carry, untuk menandingi opsi tawaran pemerintah berlabel "relokasi plus" sebagai solusi mengakhiri kemelut antara Lapindo dan warga korban luberan lumpur panas.
Slogan warga TAS sebagai refleksi sikap menuntut ganti rugi itu mengingatkan kita pada bunyi iklan penjualan kendaraan bermotor beberapa tahun silam. Bunyi iklan berlabel cash & carry itu menggambarkan betapa praktis, mudah, serta murahnya konsumen membawa pulang sepeda motor ataupun mobil.
Tapi, kini kenyataan memperlihatkan betapa hal yang mudah, gampang, dan praktis itu begitu sulit direngkuh. Pilihan warga yang tampaknya sangat sederhana, "silakan Lapindo bayar tunai dan ambil rumahnya", seperti bertepuk sebelah tangan. Itu karena pemerintah melalui sidang kabinet telah memutuskan skema ganti rugi memakai formula "relokasi plus".
Adu tanding cash & carry versus "relokasi plus" sedemikian itu merupakan duel langsung, head to head, antara apa yang oleh Habermas dalam bukunya Theory of Communication Action, sebagai konflik tiada henti antara tindakan komunikatif dan tindakan strategis.
Tindakan strategis yang asosiatif dengan kapitalisme tak lain merupakan gagasan dominan masyarakat modern yang cenderung membuat kebijakan dengan poros utama mereduksi realitas sosial politik menjadi semata-mata hanya problem teknis, sekaligus membuang jauh dimensi nilai atau moral peristiwa.
Sedangkan tindakan komunikatif adalah lifeworld, dunia nyata, alam praksis yang menganyam manusia, alam, moral sebagai realitas yang dihayati, bukan sekadar objek pasif. Sebuah paradigma yang menghargai bagaimana setiap manusia mampu merekonstruksi identitas diri sendiri.
Bila kerangka pemahaman tindakan komunikatif digunakan untuk memahami slogan cash & carry, maka sikap fenomenal warga TAS itu merupakan manifestasi atau perwujudan dari harapan adanya proses komunikasi yang sehat. Tahapan negosiasi yang di dalamnya, mengandaikan adanya partisipan warga yang bebas untuk melawan argumentasi "relokasi plus" tanpa ketakutan akan intimidasi, tindak kekerasan, dan semacamnya.
Di alam tindakan komunikatif, terkandung adanya komponen, pertama, setiap warga dinilai kompeten berbicara dan bertindak mengambil bagian dalam menentukan sikap skema ganti rugi yang menimpa harta bendanya. Kedua, setiap warga bebas mengekspresikan perilakunya, keinginan, dan kebutuhannya tanpa ada upaya represif melalui cara-cara kekerasan fisik.
Karena itu, sangat disayangkan kalau dalam mengeluarkan aspirasi warga dan aparat kepolisian terjerumus dalam tindakan anarkis. Anomali tindakan tidak hanya ada pada warga korban lumpur yang kehabisan kesabaran, tapi juga melanda politisi atau elite lokal yang cenderung mem-beri "janji-janji manis".

Simbol Ketidakpercayaan
Sejatinya, warga membutuhkan kesadaran elite politik lokal, regional, dan nasional untuk lebih sensitif atas penderitaan mereka. Bahwa cash & carry merupakan simbol puncak ketidakpercayaan warga kepada para perumus dan pembuat kebijakan publik, khususnya dalam menyelesaikan sengketa dengan Lapindo, tak bisa terbantah lagi.
Celakanya, elite politik masih merasa mampu menjadi agen yang efektif meresolusi konflik lumpur panas Lapindo.
Padahal, media melakukan fungsinya dengan baik ketika mempublikasi tindakan komunikatif warga TAS ke ruang publik yang lebih luas. Yang perlu dihindari adalah jangan sampai siapa pun melakukan pembingkaian pemahaman dengan sudut pandang bahwa perjuangan warga TAS dalam konteks teknis belaka, yakni lebih mengedepankan dampak aksi warga terhadap kemacetan lalu lintas, kerugian sesaat aktivitas ekonomi, ataupun sudut kehebohan audio-visual kejadian warga berdemonstrasi an sich.
Kalau itu terjadi, yang mengemuka bukannya proses dialogis dan penghindaran eksploitasi warga korban lumpur, tapi justru tindakan monologis/kekerasan dan represif. Pada akhirnya, semua pihak niscaya gagal menyemai nilai-nilai yang menghargai dan menghormati dialog, independensi, dan kemanusiaan. Sebuah nilai yang telah begitu langka keberadaannya karena digilas pelaku industri yang kapitalistik, yang diwakili Lapindo.
Kapitalisme sendiri cenderung memahami persoalan dari sudut pandang ekonomis belaka, lepas dari tautan etika, moral, nilai yang hidup dan menyelubungi warga. Roh kapitalisme lebih mengedepankan pemikiran bagaimana membebaskan manusia agar hanya melulu mengejar laba, bebas dari tekanan nilai dan negara. Kecuali itu, industri kapitalistik semacam bisnis pengeboran minyak Lapindo memfokuskan pada bagaimana produksi pengeboran minyak ditujukan untuk profit guna penambahan modal.
Spirit pikir kapitalistik itu jelas-jelas mencampakkan nilai dan moral humanistik.

Korban Kuasa
Dengan demikian, cash & carry adalah contoh militansi sekaligus catatan kelam aspek dimensi manusia dalam pembangunan. Sebuah spirit humanistik komunitas warga menderita yang terpasung dan terlindas oleh kri-terium performatif: maximum output with a minimum input.
Itulah gambaran faktual dan konkret, yang disebut Foucault, sebagai kuasa produktif yang bersifat represif. Sebuah pelaksanaan kuasa yang berbalikan arah dengan makna production network. Yaitu, cara pandang yang menekankan kuasa senantiasa menje- lajahi tubuh sosial, lebih dari sekadar represi kekuasaan sekelompok elite, melainkan harus difungsikan dalam relasi-relasi yang tak terhitung banyaknya sehingga semua pihak/institusi/orang terlibat.
Asumsinya, semua orang, sekaligus tak ada seorang pun, adalah korban kuasa. Itu karena setiap orang bisa bergabung ke kelompok dengan wacananya sendiri dengan sukarela, tanpa sedang dikelabui seperangkat gagasan palsu yang dibungkus melalui janji elite seperti relokasi plus atau plus, plus, plus.... –


Suara Pembaruan, 20 Maret 2007, halaman opini
http://www.suarapembaruan.com/News/2007/03/20/index.html