10 Juli 2009
SBY Telepon, JK Tak Menyangka Disiarkan Langsung di TV
Jakarta - Pembicaraan yang berlangsung antara SBY dan JK lewat telepon ternyata bukan dimulai dari JK yang mengontak SBY. Namun sebaliknya, SBY lah yang menelepon JK. Sebelumnya JK memang telah menelepon SBY, namun tak diangkat.
"Itu SBY yang menelepon Pak JK. Pak JK memang sebelumnya menghubungi SBY sekitar Maghrib karena ada undangan rapat Senin atau Selasa. Sebagai cawapres kan ada niat berkomunikasi, tapi nggak ada niat untuk dipublikasikan," kata jubir Tim Kampanye JK-Wiranto, Yuddy Chrisnandi, saat dihubungi detikcom, Jumat (10/7/2009).
Rupanya telepon dari JK itu tidak diangkat oleh SBY. Barulah sekitar pukul 20.00 WIB, saat JK menggelar pertemuan dengan para editor media massa, SBY menelepon balik.
"Pak JK kan orangnya polos. Teleponnya diambil lalu masuk kamar. Saya ada di sana waktu itu," tutur Yuddy.
Begitu mendapat kesempatan berbincang dengan SBY, JK secara spontan mengucapkan selamat. Namun ucapan itu hanya bersifat sementara dan dalam kapasitas JK sebagai wakil presiden, bukan capres. Sebab sebagai capres JK baru akan mengucapkan selamat setelah hasil penghitungan resmi KPU keluar.
"Dia (JK) spontan mengatakan, 'untuk sementara saya mengucapkan selamat Pak dengan hasil quick count. Saya sampaikan ucapan selamat.' Dalam posisi wapres secara pribadi kan wajar Pak JK mengucapkan selamat," papar Yuddy.
Setelah pembicaraan berlangsung, JK baru sadar kalau pembicaraan keduanya direkam secara live oleh televisi. Yuddy yang kebetulan menemani JK dan menyaksikan pembicaraan itu disiarkan di TV berniat memberi tahu JK. Namun rupanya JK telah diberi tahu oleh SBY.
"SBY bilang, 'Pak Jusuf, saya minta izin ini ditayangkan di TV supaya masyarakat tenang.' Pak JK nggak tahu ditayangkan di TV, tapi kan Pak JK nggak mungkin menolak setelah diberi tahu," imbuh Yuddy.
( sho / Rez )
http://pemilu.detiknews.com/read/2009/07/10/020235/1162414/700/sby-telepon-jk-tak-menyangka-disiarkan-langsung-di-tv
09 Juli 2009
KPI Sesalkan Iklan Rokok Tayang Siang Hari
"Iklan rokok siang hari sangat kami sesalkan. KPI sudah berkirim surat ke semua pengelola televisi agar tayangan iklan yang berhubungan dengan merek rokok setelah pukul 21.30 malam," kata anggota KPI, Bimo Nugroho, di Jakarta, Rabu (8/7).
Bimo Nugroho menyikapi iklan "Bakti Lingkungan" dari suatu merek rokok. Iklan rokok tersebut ditayangkan terus-menerus beberapa kali sepanjang siang-sore hari, 8 Juli 2009.
"KPI tidak akan berdiam diri apabila televisi terus menyiarkan iklan berbau rokok pada siang hari," kata Bimo Nugroho.
KPI juga mengajak masyarakat untuk melek media serta turut mengawasi dan menyadari bahaya asap rokok. Bagaimanapun rokok mengganggu kesehatan dan lingkungan.
"Ujungnya, kita perlu mengajak masyarakat untuk kritis bahwa lingkungan yang sehat harus dibangun dengan kebiasaan hidup yang sehat, seperti tidak merokok atau meracuni orang lain, termasuk anak-anak, dengan asap rokok," ujar Bimo.
Merek rokok
Meskipun mengusung iklan yang isinya mengenai kepedulian terhadap lingkungan hidup, M Joni, Tim Litigasi Komisi Nasional Perlindungan Anak, tetap memandang tayangan itu iklan rokok karena memajang merek rokok.
"Itu bukan iklan terselubung. Ada unsur merek rokok, itu sudah terang-terangan beriklan. KPI harus bisa bersikap tegas sesuai dengan undang-undang," ujarnya.
M Joni menyatakan, seharusnya stasiun televisi patuh terhadap undang-undang. Harus ada filter, jika memang ada larangan beriklan rokok pada siang hari, sebaiknya iklan itu tidak ditayangkan.
"Apa yang terjadi sudah melanggar hukum dan KPI harus bertindak. KPI harus melakukan penegakan hukum Undang-Undang Penyiaran dan PP Nomor 19 Tahun 2003. Ada jam tayang yang dilanggar di sini," kata M Joni.
Komnas Perlindungan Anak, menurut M Joni, akan mendukung dan memberi apresiasi kepada KPI untuk melakukan penegakan hukum karena itu memang patut dilakukan.
"Ini peluang KPI untuk bertindak tegas," kata Joni. Red/RG dari Kompas
05 Juli 2009
Kualitas Acara Televisi Masih Buruk
Survei menunjukkan, hanya 32 persen respoden yang menilai baik kualitas acara televisi. Selebihnya, responden menilai, kualitas acara biasa saja atau buruk. Ini adalah sebuah penurunan sebab pada survei yang sama, Januari-Februari 2009, responden yang menilai baik kualitas acara televisi hampir 36 persen.
Mayoritas responden (47,2 persen) menilai televisi tidak memberi contoh perilaku yang baik. Meski begitu, televisi berperan dalam menambah pengetahuan, memberi peringatan kepada khalayak, dan memberi hiburan.
Wakil Direktur Yayasan Sains Etika dan Teknologi (SET) Agus Sudibyo mengatakan, penilaian responden mengenai kualitas acara televisi secara umum tidak banyak berubah dalam empat kali survei rating publik yang digelar setiap 3-4 bulan sekali sejak tahun 2008.
Senior Manager Public Relations SCTV Budi Darmawan, pekan lalu, mengatakan, survei kualitatif Yayasan SET melengkapi survei kuantitatif AGB Nielsen yang selama ini dijadikan patokan bagi industri televisi. ”Ini penting bagi pengelola stasiun televisi. Setidaknya kita tahu posisi kita ada di mana.”
Meski demikian, survei kualitatif Yayasan SET belum berdampak terhadap pengiklan. ”Mereka masih menggunakan survei kuantitatif AGB Nielsen untuk menempatkan iklannya,” tambah Budi.
Agus menjelaskan, survei kali ini masih menggunakan metode yang sama, yakni peer group assesment. Respodennya secara umum sama dengan tiga survei sejenis sebelumnya. ”Ada beberapa yang diganti karena berhalangan,” ujar Agus.
Responden dalam survei ini dipilih dari kalangan terdidik (72 persen S-1 ke atas) dan diasumsikan mampu memberikan penilaian terhadap acara televisi. Jumlah responden 220 dan tersebar di 11 kota, yakni Jakarta, Medan, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Makassar, Denpasar, Batam, Pontianak, dan Palembang.
Hal yang baru dalam survei ini adalah penyurvei mengumumkan produk mana saja yang mensponsori program terbaik dan program terburuk. Dengan cara ini diharapkan pengusaha akan beriklan pada program yang berkualitas baik.
Terbaik-terburuk
Berdasarkan survei kali ini, acara Kick Andy (Metro TV) dianggap berkualitas paling baik. Pada tiga survei sejenis sebelumnya, Kick Andy juga dianggap paling berkualitas. Acara ini, menurut responden, mampu meningkatkan daya kritis dan empati sosial, memberikan model perilaku yang baik sekaligus menghibur.
Program terbaik lainnya berturut-turut Apa Kabar Indonesia Malam (TVOne), Liputan 6 Petang (SCTV), Seputar Indonesia (RCTI), dan Bocah Petualang (Trans7). Sejak Yayasan SET memulai survei seperti ini pada awal 2008, program terbaik umumnya didominasi oleh acara berita.
Sebaliknya, program terburuk didominasi sinetron. Dari enam program yang dinilai paling buruk, empat di antaranya sinetron. Sisanya talk show dan reality show. Keenam program terburuk itu antara lain Suami-suami Takut Istri (Trans TV) diikuti Muslimah (Indosiar), Curhat dengan Anjasmara (TPI), Inayah (Indosiar), Ronaldowati 2 (TPI), dan reality show Termehek-mehek (Trans TV).
Di kategori sinetron tidak berkualitas, Suami-suami Takut Istri kembali menempati urutan pertama diikuti Muslimah. Sebaliknya, sinetron yang dianggap berkualitas adalah Oshin (TVRI) dan Kepompong (SCTV).
Kepala Departemen Marketing PR Trans TV Hadiansyah tidak berkomentar banyak atas hasil survei yang menempatkan Suami-suami Takut Istri dan Termehek-mehek dalam jajaran program terburuk. ”Buat kami, sah-sah saja jika ada orang membuat survei kualitatif. Hasilnya akan memacu kami untuk berbuat lebih baik,” katanya.
Meski demikian, dia mengingatkan bahwa penilaian survei Yayasan SET memiliki sudut pandang berbeda dengan penilaian survei lainnya. ”Di Panasonic Award 2009, misalnya, acara Termehek-mehek malah jadi acara terfavorit. Pada akhirnya, kami menyerahkan penilaian pada masyarakat,” kata Hadiansyah.
Secara umum, lima sinetron yang digemari oleh pemirsa, seperti Cinta Fitri 3 (SCTV), Nikita (RCTI), Dewi (RCTI), Melati untuk Marvel (SCTV), dan Air Mata Cinta (RCTI), dinilai berkualitas buruk. Mengapa? Para responden menganggap bahwa sinetron tidak mengajarkan empati, tidak memberikan contoh perilaku yang baik, tidak ramah pada anak, bias gender, dan penuh kekerasan.
Meski dinilai buruk, program-program tersebut justru paling banyak digemari pemirsa. Cinta Fitri 3, misalnya, memperoleh rating hingga 12,6, Termehek-mehek 11,9, dan Dewi 7,3. Bandingkan dengan program terbaik Kick Andy yang hanya meraih rating 1,6.
Pada akhirnya, survei publik ini memang tidak bisa mewakili persepsi pemirsa secara umum. Akan tetapi, setidaknya kita mendapatkan gambaran suara publik saat mereka menyimak televisi di ruang tamu atau kamar tidur mereka.
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/05/02502694/kualitas.acara.masih.buruk
30 Juni 2009
KPID: Awasi Anak Nonton TV Saat Liburan

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumatera Utara (Sumut), mengimbau para orang tua untuk mengawasi anaknya menonton televisi pada saat liburan sekolah.
Ketua KPID Sumut, Abdul Haris Nasution di Medan, Senin, mengatakan, apabila anak-anak yang belum mempunyai pemahaman yang kuat, akan terseret arus apabila tidak diarahkan orang
tuanya.
"Otaknya akan dijejali dengan cerita sinetron yang mengarahkan kepada kehidupan glamor, gosip artis, kekerasan, cerita mistik, serta tayangan iklan-iklan yang membuat si anak jadi generasi materialistik dan konsumtif," katanya.
Adegan yang tidak pantas dikonsumsi anak, akan membuat rangsangan kepada anak. Kecenderungan meniru dan mencoba apa yang dilihatnya.
Dia menambahkan, tidak semua acara televisi baik untuk anak. Diperkirakan sekitar 15 persen yang cukup mendidik, selebihnya mengandung adegan kekerasan, seks, dan mistis.
"Anak-anak menjadi kurang bermain dan menjadi 'ketagihan' dengan televisi. Semangat belajar berkurang dan membuat malas belajar," katanya.
Akibatnya akan menyebabkan anak-anak kurang bermain, sehingga saat liburan sekolah, kebanyakan diisi dengan menonton televisi dan tidak membuat kreatif.
Dia mengharapkan para orang tua tetap meningkatkan kewaspadaannya menemani anak-anaknya menonton tayangan televisi pada saat liburan sekolah ini.
"Untuk itu masyarakat atau orang tua yang merasa terganggu dengan tayangan televisi segera melaporkan ke KPID," katanya. Sumber : Ant
http://oase.kompas.com/read/xml/2009/06/30/03021967/KPID.Awasi.Anak.Nonton.TV.Saat.Liburan
29 Juni 2009
KPID Sumsel Tegur Acara “Termehek-Mehek”
Anggota KPI Daerah Sumsel bidang pengawasan isi siaran, Yenrizal, mengatakan bahwa Termehek-Mehek adalah tayangan yang mempertontonkan kehidupan pribadi dan hal negatif dalam keluarga dengan cara Reality Show yang terindikasi mendorong pihak-pihak terlibat didalam konflik yang ditayangkan tersebut untuk mengungkapkan aib dan atau kerahasiaan masing-masing pihak yang berkonflik. "Hal ini kita yakini bertentangan dengan pasal 51 huruf c (SPS)," tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa walaupun tayangan tersebut sudah menampilkan tulisan "telah mendapat persetujuan pihak-pihak yang terlibat," namun bukan jadi alasan untuk menampilkan aib dan konflik kepada publik. "Apalagi ini diformat reality show, artinya mengarahkan pemirsa untuk memahami bahwa itu adalah kejadian sesungguhnya dan tidak dibuat-buat," ujarnya.
Beberapa ketentuan lain dalam SPS yang dilanggar adalah, tidak memperhatikan dampak terhadap keluarga, terutama anak-anak dan remaja. Tayangan tersebut bahkan menyorot anak-anak yang menyaksikan sepasang suami istri yang bertengkar. Hal ini dianggap bertentangan dengan pasal 51 huruf e SPS. Selain itu pembawa acara dalam tayangan tersebut juga cenderung mengambil kesimpulan yang memojokkan salah satu pihak yang berkonflik.
Sementara itu, Ir. H, Jonizar, MT, mewakili Ketua KPI Daerah Sumsel menilai bahwa tayangan tersebut juga banyak memperlihatkan adegan kekerasan, seperti menampar, mendorong, bertengkar, yang dibuat seolah-olah memang nyata terjadi. "Terlihat juga bahwa pihak pembuat acara (presenter dan kameramen) membiarkan kekerasan itu terjadi. Ini jelas tidak boleh dan tidak sesuai dengan P3 dan SPS, seperti tercantum dalam pasal 28 ayat 5," ujarnya.
Oleh karena itu, KPI Daerah Sumsel meminta Trans TV agar memperbaiki mata acara tersebut dan memperhatikan aturan yang ada. Apabila tidak diindahkan, maka akan diteruskan dengan sanksi yang di atur dalam UU No. 32/2002. Red/ST/KPID SumselBerita Jacko Kukuhkan Kehebatan TMZ.com
Situs web berusia empat tahun itu akhir pekan lalu menyebarluaskan berita terbesar mengenai kematian Michael Jackson.
Berita itu mereka tindaklanjuti dengan laporan gosip mengenai Jackson yang diduga sering mengonsumsi obat-obatan, rekaman suara percakapan layanan darurat 911 dan dugaan perebutan hak asuh anak sang mega bintang pop.
TMZ menambah daftar prestasinya sebagai penyebar pertama berita-berita besar Hollywood, setelah omelan anti-Semit Mel Gibson tahun 2006, rekaman kata-kata kasar Alec Baldwin tahun 2007 kepada anak perempuannya yang berusia 11 tahun dan rekaman caci maki Christian Bale saat pembuatan film "Terminator Salvation".
Tapi, kesuksesan itu tidaklah tanpa ganjalan. Alec Baldwin yang geram karena rekaman suaranya tersebar, menyebut Levin si bos TMZ itu dengan sebutan "tumor manusia". Reputasi mendapatkan berita pertama mengenai selebriti-selebriti besar telah menjadikan TMZ.com sebagai sensasi online, menurut layanan ranking Web Quantcast.com.
"TMZ telah menjadi kantor berita untuk bisnis hiburan," kata Jim Paratore, eksekutif Warner Bros yang bermitra dengan Levin untuk meluncurkan situs web tersebut tahun 2005. Dua tahun kemudian, mereka juga meluncurkan versi acara televisi TMZ.
Di sisi lain, taktik pemberitaan ala tabloid dari TMZ telah membuat banyak penerbit dan pejabat pemerintah gerah. Menurut koran LA Times, saluran berita CNN enggan mengutip TMZ saat berita kematian Jackson merebak. Beberapa pengiklan masih ragu-ragu memasang produk mereka di situs dan acara TV TMZ.
Situs web itu telah berhasil menciptakan kontroversi namun belum cukup bagus dalam menghasilkan pemasukan bagi perusahaan induknya, Time Warner. Dalam beberapa hal, pemberitaan TMZ mengenai Michael Jackson dipandang sebagai kemenangan media baru melawan media lama. LA Observed memuji pemberitaan itu dengan kalimat "nilai-nilai yang paling tinggi menurut media lama".
Rating untuk acara televisi nya pun menunjukkan peningkatan khususnya pada penonton berumur 18-34 tahun yang dikenal sebagai kelompok pemirsa sulit dijangkau. TMZ dibentuk bersama oleh AOL dan Telepictures, keduanya adalah divisi dari Time Warner, yang juga menerbitkan majalah Time, Sports Illustrated, Entertainment Weekly dan lain-lainnya.
TMZ biaya operasionalnya terbilang kecil untuk hitungan industri media AS yaitu tidak sampai 8 juta dollar (sekitar Rp 80 miliar). Masalahnya, situs web maupun acara televisi TMZ hingga kini belum banyak menghasilkan pemasukan dan masih dibiayai perusahaan induknya.
TMZ membuat tercengang saingan-saingannya ketika secara drastis mengubah taktik reportasenya dan memegang teguh keakurasian. Di sisi lain, mereka mulai dicaci aktor, Humas, dan badan-badan pemerintah.
Awal tahun ini mereka menampilkan foto bukti kepolisian tentang wajah penyanyi pop Rihanna yang babak-belur setelah bertengkar dengan pacarnya, Chris Brown. Polisi Los Angeles (LAPD) kemudian menyelidiki kebocoran foto tersebut dan pengadilan menilai pembocoran itu dapat dikenakan pasal pidana.
Ada anggapan bahwa TMZ membayar orang untuk mendapatkan informasi. Di banyak media, reporter dan editor dilarang membayar orang ntuk mendapatkan petunjuk atau kutipan, tapi di sisi lain, majalah dan program berita televisi sudah biasa membayar puluhan ribu dollar agar dapat masuk ke acara pernikahan pesohor atau mendapatkan foto bayi selebritis. Terkadang, mereka juga membayar agar bisa mewawancarai seseorang.
"Kenapa ada karyawan rumah sakit yang mau memberi informasi? Memangnya karena kebaikan hati mereka?," kata Rob Silverstein, eksekutif produser "Access Hollywood" dari NBC Universal.
Silverstein merujuk kepada informasi yang didapat TMZ mengenai kematian Michael Jackson. Meski begitu, Silverstein mengaku tidak punya "bukti konkret" bahwa TMZ membayar untuk mendapatkan berita.
Pada masa-masa sebelumnya, petinggi TMZ membantah hal tersebut. Tapi Levin kepada harian New York Times mengatakan bahwa situsnya memberi "tip" untuk mendapatkan petunjuk yang menuntun kepada berita kematian Michael Jackson, jadi bukan untuk berita seutuhnya.
Levin tidak mau merinci lebih jauh mengenai hal tersebut dan dia berkali-kali menolak diwawancara mengenai proses mendapatkan informasi kematian Jackson.
TMZ dinilai lebih unggul dari saingan-saingannya karena mereka semakin identik dengan sensasi. Saat sepi berita, mereka muncul dengan rubrik "di mana mereka sekarang" yang isinya adalah foto terkini selebriti dan lelucon yang mempermainkan, misalnya membahas berat badan selebriti.
Perusahaan besar seperti Procter & Gamble masih menolak beriklan di TMZ dengan alasan untuk "mempertahankan integritas," sebagaimana dikatakan Tom Weeks, Senior Vice President Starcom. Paratore, salah satu bidan TMZ tersebut, menjelaskan ada perbedaan tajam antara acara televisi TMZ dan saingannya seperti "Entertainment Tonight" atau "Access Hollywood." "Mereka semua adalah bagian dari agenda dari studio besar untuk pemasaran. Mereka ditentukan oleh studio sedangakan Kami bukan bagian dari studio." (LA Times).
http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/06/29/02253921/Berita.Jacko.Kukuhkan.Kehebatan.TMZ.com
28 Juni 2009
10 TIPS "MENJINAKKAN" TAYANGAN TELEVISI
- Atur lama waktu menonton televisi, maksimal 2 (dua) jam per hari;
- Klasifikasikan acara ke kategori positif & negatif;
- Ingat!, TV bukan pengasuh anak Anda/teman terbaik Anda ;
- Letakkan TV di ruang bersama, bukan di kamar tidur;
- Sediakan kegiatan pengganti menonton TV;
- Menyeleksi acara, bukan melihat untuk iseng/agar rumah tak sepi;
- Hindari menonton acara yang negatif (kekerasan, cabul, mistik);
- Pililah acara berkualitas (edukatif-menghibur)
- Mendiskusikan tayangan kekerasan, dan bantu carikan solusi non kekerasan;
- "Bersuara"lah (memberi kritik/saran via media) sebagai bentuk perlawanan terhadap acara negatif.

