23 Maret 2008

Indro Warkop tentang Tren Film Komedi Sensual


Anggap sebagai Keragaman Pilihan
Setelah booming film horor, tahun ini tampaknya giliran tema-tema komedi sensual yang bakal mendominasi layar lebar lokal. Dibuka dengan Kawin Kontrak, berturut-turut disusul X.L. (Extra Large), dan D.O. (Drop Out). Masih dalam tahap produksi, ada film berjudul Big Size, Mas! yang dibintangi Christian Sugiono. Bagaimana komentar Indro, salah seorang personel grup Warkop DKI, yang film-filmnya dulu dikenal bertema serupa? Berikut wawancara dengannya ditambah ungkapan kerinduan berakting kembali.
-------

Setelah horor, awal tahun ini banyak muncul film komedi sensual. Apakah itu sejenis dengan film-film Warkop DKI dulu?
Berbeda. Warkop bukan komedi sensual. Kami tidak menggunakan kesensualan cewek-cewek seksi. Kalau dilihat, kalaupun ada cewek seksi, itu hanya saat adegan di kolam renang atau pantai. Harus dipisahkan. Yang kami pakai adalah komedi slapstik.

Bagaimana pendapat Anda tentang komedi yang mengandalkan lelucon berbau seks?
Itu semua masalah pilihan. Kita nggak bisa paksa orang untuk tidak menyukai es puter dan memilih es krim. Itu bukan masalah kelas, tapi cuma soal warna dan bentuk. Karya seni nggak bisa dipaksakan.

Menurut Anda, apakah ada kemungkinan muncul kelompok komedi yang bisa mengulang kesuksesan film-film Warkop DKI?
Di film atau sinetron, ada yang meniru Warkop habis-habisan. Formasinya bertiga, joke-joke yang dipakai juga Warkop banget. Tapi, banyak yang tidak jadi sama sekali. Kesalahan terbesar mereka adalah karena mereka menyontek. Semirip apa pun, penonton akan mencari Warkop yang asli. Seharusnya, jangan mencontoh terlalu jauh. Kalau ambil ide komedi slapstiknya saja, itu nggak masalah.

Apakah Anda rindu untuk kembali bermain layar lebar?
Kalau ditanya kangen, ya saya kangen banget. Perasaan seperti itu datang saat nonton di bioskop, nonton film Warkop diputar di TV, atau saat mendengar orang ramai membicarakan film. Tapi, saya nggak mau terlalu bermimpi untuk bisa seperti dulu. Dulu, istilahnya Warkop adalah satu power. Sekarang saya sendiri, berarti tinggal sepertiga. Dengan kekuatan yang sepertiga itu, saya mungkin hanya bisa main sebagai peran pembantu.

Ingin tetap main komedi?
Jujur, saya nggak mau cuma main di komedi. Saya juga mau main peran serius. Basic saya kan teater. Ya, paling nggak komedi situasilah.

Apakah kejayaan Warkop DKI masih bisa Anda rasakan hingga sekarang?
Walau hanya di layar kaca, film Warkop masih diputar. Biasanya diputar di momen-momen besar, seperti tahun baru, Lebaran, dan hari libur. Itu berarti sekali buat saya. Apresiasi yang sangat besar terhadap karya. Tidak semua film bisa seperti itu. (rie/ayi)

disalin dari Jawa Pos 23/3/2008

Tidak ada komentar: