01 April 2010

Televisi, Kawan atau Lawan?



Kalau kita lihat, televisi sudah menjadi seperti kebutuhan pokok. Gimana enggak, dalam sehari bisa dipastikan kita tidak pernah absen menonton televisi atau TV.

Apalagi belakangan ini acara dari sejumlah stasiun TV yang ada semakin beragam (atau seragam ya... he-he), mulai sinetron, kartun, acara musik, sampai reality show.

Kalau zaman dulu kita getol banget nonton Si Unyil, Tom and Jerry, atau Keluarga Cemara, sekarang ada Cinta Fitri, Dahsyat, atau Termehek-mehek.

Selain itu, zaman sekarang kita enggak cuma bisa menikmati siaran dari dalam negeri. Dengan fasilitas TV berlangganan, kita bisa menikmati siaran dari dunia internasional juga.

Pertelevisian Indonesia

Kami enggak hendak membicarakan fenomena TV berlangganan yang membuat akses hiburan dan informasi kita semakin luas. Kami mau bicara tentang dunia pertelevisian Indonesia.

Nah, kalau kita bicara tentang dunia pertelevisian Indonesia, pasti enggak bisa lepas dari TVRI alias Televisi Republik Indonesia. TVRI adalah stasiun televisi pertama di Indonesia (milik pemerintah).

Pada awal kemunculannya, TVRI mengadakan siaran percobaan Upacara Kemerdekaan Republik Indonesia ke-17 di Istana Negara, tanggal 17 Agustus 1962. Setelah itu, pada 23 Agustus 1962, TVRI resmi mengudara dengan menampilkan siaran langsung pergelaran Asian Games IV di Jakarta.

Sebagai stasiun TV milik pemerintah, TVRI juga memiliki fungsi sebagai media sosialisasi kebijakan pemerintah era Orde Baru. Selama hampir 30 tahun, TVRI menjadi single fighter (pemain tunggal) di dunia pertelevisian Indonesia.

Tahun 1989 muncul stasiun televisi swasta pertama di Indonesia, yaitu RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). RCTI yang saat itu mendapatkan jatah siaran di daerah Jakarta dan sekitarnya menjadi pelopor bagi lahirnya sejumlah stasiun TV swasta di Indonesia, seperti SCTV (Surya Citra Televisi di Surabaya tahun 1990), TPI (1991), ANTV (1993), dan Indosiar (1995).

Pasca-reformasi, permintaan penambahan stasiun TV terus meningkat. Pada masa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur, stasiun TV swasta di Indonesia tumbuh dengan suburnya.

Jika dihitung, ada lima stasiun TV baru, yaitu Metro TV, TV7 (Trans7), Trans TV, Lativi (kini menjadi TVOne), dan Global TV. Jadi, sampai hari ini, ada 11 stasiun TV nasional yang siap mengisi hari-hari kita. Ini belum ditambah dengan banyak stasiun TV lokal yang tersebar merata di sejumlah daerah di Indonesia.

Dulu vs kini

Dengan semakin banyaknya jumlah stasiun TV di Indonesia, secara otomatis memunculkan aroma persaingan yang makin lama semakin menguat. Semua stasiun TV berlomba-lomba menjadi nomor satu di hati pemirsa.

Caranya, tentu saja dengan menyuguhkan berbagai acara yang (menurut mereka) menghibur dan mendidik. Namun sayangnya, sekarang ini banyak banget acara televisi yang kurang berkualitas dan bersifat melebih-lebihkan alias lebay.

Kalau zaman dulu yang namanya sinetron itu tayang paling banter dua kali seminggu, coba lihat sekarang. Setiap jam ada saja sinetron yang tayang di stasiun TV yang berbeda-beda. Dan ceritanya itu lho, selalu enggak jauh dari orang baik tetapi miskin, ditindas dengan berlebihan sama orang kaya.

Lebih menyedihkan lagi, acara TV yang berkualitas buat remaja (apalagi anak-anak) sudah jarang banget. Acara yang ada ya sinetron dan kartun yang serinya selalu diulang-ulang. Hiks!

Memang zaman sudah berubah sob! Kayaknya sudah enggak mungkin lagi kita menemui acara-acara TV yang isinya mengedukasi, enggak cuma untuk hiburan saja. Eranya Keluarga Cemara memang sudah tergusur sama Cinta Fitri cs.

Jadi MuDAers, sambil terus berharap dan berdoa program TV kita akan lebih berkualitas, kita harus pintar-pintar memilih acara TV yang oke. Enggak hanya menghibur, tetapi juga mendidik.

Selama kendali remote ada di tangan kita, jadilah penonton yang pintar dan berakal. Jangan mau diakali oleh TV. Oke deh!

Tim SMAN 4 Bekasi: Susilawati, Dewi Wulan Cempaka Ayu, Rr Pradyta Larashati, Zsazsa Pamella Quamillia, Valentia Putri Santi, Adam Putera Utama, Rizki Dwika Aprilian, Adjie Prasojo, Alvin Turangga Lazuardi.

DAMPAK TELEVISI:

POSITIF

1. Memperluas wawasan.

2. Dapat menghilangkan stres dan kejenuhan, dengan menonton berbagai acara hiburan di TV.

3. Dapat mengetahui perkembangan seluruh dunia dalam sehari dengan waktu yang amat singkat.

4. Bisa menjadi sarana edukasi sekaligus rekreasi yang menarik.

NEGATIF

1. Jangka pendek: keseringan nonton TV, apalagi dengan jarak yang terlalu dekat, bisa menyebabkan cacat mata miopi (minus).

2. Dalam beberapa kasus, banyak penderita alzheimer (pikun dini) terjadi karena terlalu banyak menonton TV dan meninggalkan aktivitas fisik lainnya.

3. Dapat meningkatkan tingkat kriminalitas, seperti pembunuhan, dan tawuran, akibat meniru atau terpengaruh adegan di TV. -- http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/01/04271045/.televisi.kawan.atau.lawan

1 komentar:

eka mengatakan...

Sependapat! Pintar dan berakal.