25 Maret 2010

Google dan Yahoo! Hadapi Benturan

Adelaide, Rabu - Dua perusahaan raksasa pengelola internet, Google dan Yahoo!, mengkritik tajam rencana Pemerintah Australia. Negara ini akan menerbitkan undang-undang untuk menyensor situs-situs internet. Kebijakan itu dipandang sebagai pembatasan berlebihan bagi masyarakat Australia dalam mengakses informasi.

"Rencana pemblokiran sejumlah isi akan merusak reputasi Pemerintah Australia, negara penganut demokrasi liberal yang mengedepankan kebebasan individu dan tanggung jawab sosial," tulis Google seperti dilansir Watoday.com.au, Rabu (24/3).

Pernyataan

Menurut AP, pernyataan Google itu termasuk di antara 174 pernyataan yang dikirim kepada Departemen Perhubungan terkait kebijakan penyensoran isi situs. Selain menghambat akses publik terhadap informasi, Google dan Yahoo! mengatakan, penyaringan akan mengurangi kecepatan penggunaan situs internet di Australia.

"Inti keprihatinan kami adalah lingkup penyaringan isi yang akan diterapkan terlalu luas," ujar pengelola Google Australia, Lucinda Barlow.

Barlow mengatakan, Google sudah mempunyai filter sendiri untuk memblokir pornografi anak-anak. "Batasan tentang pornografi anak sudah jelas. Tidak ada warga Australia yang ingin layanan itu disediakan, dan kami setuju," kata Google.

Google Australia menegaskan, mereka sudah memiliki fitur sendiri untuk menyaring pornografi, yang menjadi alasan dikeluarkannya undang-undang penyaringan isi situs internet itu.

Sebaiknya Australia fokus menyaring isi yang berbahaya bagi anak-anak dan mencegah predator anak-anak di dunia maya. Langkah itu sudah dibuat Inggris, Kanada, Denmark, Finlandia, dan Swedia.

Yahoo! juga mengungkapkan keprihatinan serupa. Isi situs di berbagai forum diskusi di dunia maya, seperti forum diskusi dan informasi yang kontroversial, juga terancam akan disaring.

Forum diskusi itu antara lain, forum mengenai eutanasia, informasi injeksi yang aman, hingga forum kaum homoseksual untuk saling berbagi pengalaman seksual. "Ada banyak nilai yang terkandung dalam isi itu yang telah mendorong perdebatan panas," ujar Yahoo!.

Menteri Komunikasi Australia Stephen Conroy menjelaskan, penyaringan isi situs internet hanya akan memblokir akses warga ke situs-situs pornografi, serta situs yang mengandung kekerasan seksual, dan berbagai petunjuk untuk melakukan tindakan kriminal. "Penyaringan takkan memblokir forum diskusi antarpribadi maupun situs-situs jejaring sosial," katanya.

Conroy menambahkan, pemerintah juga tak akan memblokir Google dan Yahoo! yang selama ini telah mendukung kampanye nasional tentang penggunaan internet yang aman.

Australia sebenarnya sudah merencanakan kebijakan filter isi situs sejak Desember 2009. Namun, rencana itu diperkirakan baru akan diberlakukan akhir tahun ini. Penyaringan akan dilakukan oleh penyelia jasa internet (ISP) Australia. Isi yang diblokir berhubungan dengan kekerasan seksual, obat-obat terlarang, dan pornografi anak.

Google juga sangat mengkhawatirkan pemblokiran diperkirakan akan merambah ke materi-materi yang ada di situs-situs jejaring Twitter, YouTube, dan Facebook. Hal itu menjadi salah satu yang dipersoalkan kepada otoritas berwenang di Australia.

Brasil mengancam

Sementara itu, Google Brasil juga tersandung isu lelucon jorok (dirty jokes). Raksasa mesin pencari ini didenda pengadilan setempat karena tidak menyaring lelucon jorok di sebuah situs jejaring sosial milik Orkut.

Gugatan terhadap Google diajukan dua remaja yang mengaku terhina dengan sebuah lelucon yang ditulis di Orkut.

Google mengatakan, perusahaan tidak memiliki sistem atau karyawan untuk mengawasi Orkut. Tidak diungkapkan secara jelas seperti apa isi lelucon jorok itu. Pengadilan memutuskan Google bersalah dan harus membayar denda 2.700 dollar AS per hari selama lelucon jorok tidak dihapus. Google diminta menghapus lelucon itu.

China mengecam

Heboh soal Google China atau Google.cn juga terus bergulir. Surat kabar People's Day, corong Partai Komunis China (PKC) yang berkuasa, menuding Goggle berkolusi dengan spionase AS. Namun, hengkangnya Google dinilai sebagai pintu masuk bagi China untuk mempromosikan teknologi produksi domestik.

"Google tidak bebas nilai. Mereka terkenal suka bekerja sama dan berkolusi dengan intelijen AS dan badan-badan keamanan AS," tulis People's Day di halaman depannya, Rabu (24/3).

Seperti diberitakan sebelumnya, Google Inc (AS) telah menutup portal berbahasa China di Google.cn dan memindahkannya ke sebuah situs di Hongkong. Langkah Google dilakukan karena mereka terus-menerus ditekan Pemerintah China yang meminta Google.cn menyensor diri sendiri. Setelah empat tahun beroperasi, Google.cn hengkang.

Harian People's Daily menilai, alasan Google menolak sensor merupakan upaya perusahaan itu dan Washington untuk menantang otoritas PKC. Bagi warga China, Google bukan segalanya. Meski menampilkan isu-isu politik dan nilai-nilai universal, Google bukan perusahaan luar biasa.

Deplu AS menyatakan, keputusan Google menutup operasi di China merupakan keputusan perusahaan dan tidak terkait Pemerintah AS.(AP/AFP/REUTERS/CAL) http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/25/03425357/google.dan.yahoo.hadapi.benturan

Tidak ada komentar: