16 Maret 2008

Agar Ananda Berhati Emas

Anak-anak saleh tumbuh dengan kedekatan dan keteladanan orangtua. Ceritakanlah dongeng, jangan biarkan ia berlama-lama di depan layar TV.

‘’Bu, aku ingin berkorban seperti Extra Joss,’’ kata seorang bocah. Ia lantas berlari untuk menyerahkan daging kambing yang baru didapat ibunya kepada orang lain yang lebih membutuhkan.

Benar, adegan indah itu hanya iklan. Tapi, bukan berarti keluhuran anak-anak yang berkorban seperti itu tidak ada sama sekali dalam kenyataan sehari-hari. Walaupun bentuk pengorbanannya mungkin lebih sederhana, seperti memberikan pensil atau buku tulis kepada teman sekolah yang tak mampu membelinya.

Investasi Akhirat
Dan berbahagialah Anda, bila ananda berhati emas. Lembut hati, ringan tangan pada sesamanya yang menderita. Inilah ciri anak yang saleh, yang doanya akan menutupkan pintu neraka dan membukakan pintu surga bagi kedua orangtuanya di akhirat kelak. Seperti dipesankan Nabi Muhammad Saw, bila kita meninggal maka dunia tidak akan ‘’mengikuti’’ kecuali tiga hal: ilmu yang manfaat, amal jariyah, dan doa anak saleh. Jadi, anak yang saleh adalah investasi akhirat yang luar biasa berharga bagi orangtua.

Peran Ayah-Ibu
Bagaimana ananda akan saleh, kalau orangtua tidak mendampinginya secara mencukupi dalam belajar kesalehan. Karena itu, peran ayah maupun ibu begitu penting dalam perkembangan anak-anak.

Maka, pada penghujung tahun lalu Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggaungkan ‘’Gerakan Kembali ke Rumah’’ (al ruju' ila al usroh).

‘’Seorang ibu jangan merasa bangga banyak di luar rumah,’’ demikian salah satu pesan dalam rekomendasi bidang sosial budaya dan pendidikan hasil Raker MUI di Jakarta, yang dibacakan Ketua Umum MUI KH Sahal Mahfudh dan Sekretaris Umum (kini ketua PP Muhammadiyah) Dien Syamsuddin.

Bukan, seruan itu bukan buat mengebiri mobilisasi kaum ibu. Tapi sekadar mengingatkan bahwa rumah harus menjadi wahana pendidikan pertama dan utama untuk membentengi anak dari serbuan budaya yang merusak akhlak melalui tayangan televisi dan bacaan.

Seperti dikatakan Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Qur’an, ‘’…bukan berarti istri tidak boleh meninggalkan rumah. Ini mengisyaratkan bahwa rumah tangga adalah tugas pokoknya.’’

Dalam bukunya Syubuhat Haula Al-Islam, Muhammad Quthb menjelaskan: ‘’Perempuan pada awal zaman Islam pun bekerja, ketika kondisi menuntut mereka untuk bekerja. Masalahnya bukan terletak pada ada atau tidaknya hak mereka untuk bekerja, tapi bahwa Islam tidak cenderung mendorong wanita keluar rumah kecuali untuk pekerjaan-pekerjaan yang sangat perlu, yang dibutuhkan oleh masyarakat, atau atas dasar kebutuhan wanita tertentu. Misalnya kebutuhan untuk bekerja karena tidak ada yang membiayai hidupnya, atau karena yang menanggung hidupnya tidak mampu mencukupi kebutuhannya.’’

Di samping itu, ‘’keibuan adalah rasa yang dimiliki oleh setiap wanita, karenanya wanita selalu mendambakan seorang anak untuk menyalurkan rasa keibuan tersebut. Mengabaikan potensi ini, berarti mengabaikan jati diri wanita,’’ tutur Qurais Shihab dalam Wawasan Al Qur’an.

Jauh sebelumnya, Kaisar Napoleon Bonaparte sudah mengatakan, ''Prancis lebih memerlukan seorang ibu sebelum memerlukan sesuatu yang lain.''

Di Amerika, kesadaran kaum ibu memunculkan LSM peduli keluarga, misalnya Yayasan ''Mothers at Home''. Yayasan yang saat didirikan hanya beranggotakan 700 orang ini, belakangan ini anggotanya sudah mencapai puluhan ribu orang. Misi mereka, mengajak para ibu untuk bekerja di dalam rumah, mendidik anak, dan merawat keluarganya.

Bahkan pendidikan anak sejak dini oleh ibu dijadikan agenda kerja utama The First Lady Hillary Clinton (Hillary Clinton Takes On Early Childhood Education, Daily Yomiuri, 18/4/97). Menurut data dari US Census Bureau, saat ini 60,2 persen dari 26,4 juta keluarga di Amerika Serikat yang mempunyai anak berusia dibawah 18 tahun mempunyai ibu yang bekerja purna waktu di rumah atau bekerja paruh waktu (Mothers at Home, www.mah.org; Mothers & More, www.mothersandmore.org).

Sementara itu, dalam bukunya Father Powers, Henry Biller dan Dennis Meredith mengungkapkan bahwa salah satu bahaya terbesar yang mengancam keluarga saat ini adalah para ayah tidak merasa penting untuk mengambil peran sebagai seorang ayah bagi anak-anaknya seperti yang dilakukan para ayah tempo dulu.

Celakanya, masyarakat pada umumnya memaklumi hal itu. Masyarakat lebih menghargai seorang ayah sebagai pengusaha atau pekerja yang sukses dan kaya walaupun dia mungkin adalah seorang ayah yang gagal total dalam mendidik anaknya.

Padahal, kehadiran ayah dalam kehidupan anak, ternyata punya makna yang besar sekali. Ia melengkapi peran sang ibu. Bila kasih ibu bersifat tidak bersyarat, cinta Ayah lebih bersifat kualitatif dan melekat pada performance anak. Ibu khawatir tentang bagaimana bayinya bisa bertahan hidup, sedangkan ayah berpikir bagaimana anaknya dapat menghadapi masa depan.

Ibu mendisiplin anak-anak waktu demi waktu sedangkan ayah mendisplin anak dengan peraturan. Dari ibu, anak belajar segi emosinya sedangkan dari ayah, anak belajar untuk hidup ditengah masyarakat. Ibu memberitahukan anak-anak untuk hati-hati ini dan itu didalam bermain, sedangkan ayah justru mendorong anak untuk berani mencoba sesuatu yang baru. Inilah peran harmoni orangtua.

Buku Five Key Habits of Smart Dads menunjukkan hasil riset tentang anak-anak yang dibesarkan tanpa peran ayah. Anak-anak malang itu cenderung mempunyai beberapa kekurangan psikologis berupa: kepercayaan diri sendiri yang rendah, tidak mempunyai kepedulian sosial yang baik, sulit untuk menyesuaikan diri untuk keadaan tertentu, resiko yang lebih tinggi untuk perkembangan masalah psiko-seksual.

Faktor Eksternal
Hal terpenting dalam mendampingi anak adalah memberikan teladan baginya. Hasil penelitian para psikolog perkembangan seperti Jean Piaget, Erik Erikson, Jerome Bruner, dan lain-lain, membenarkan, anak-anak mengalami internalisasi nilai-nilai dengan pertama-tama mengalami struktur eksternal. Ringkasnya, bocah cilik lebih mudah meniru. Sehingga kalau orangtua ingin agar ananda berbuat baik, maka berilah contoh. Teladan, bukan cuma teori.

Dalam iklan sosial Extra Joss tadi misalnya, keinginan berkorban menggelegak dalam jiwa si anak setelah menyaksikan imbauan yang menggugah di layer teve, diikuti teladan berkorban (Rp 2 Milyar). Jadi, klop antara teori dan praktik.

Yang tidak dijelaskan dalam iklan tadi adalah, proses panjang yang membuat seorang anak memiliki empati sosial sedemikian tinggi. Proses ini terutama sekali tergantung pada pendidikan yang diperolehnya dari orangtua si anak.

Anak yang dilahirkan dalam keluarga miskin, seperti yang tampak dari tayangan iklan berkorban Extra Joss, memang lebih mudah berempati pada penderitaan orang lain. Sama halnya orangtua yang melarat, tidak ingin anak-anaknya mengikuti jejak kemelaratannya. ‘’Jika kita sendiri mengalami masa-masa sulit, kita ingin memastikan anak-anak kita tidak mengalaminya pula,’’ tutur John dan Linda Friel dalam The 7 Worst Things Good Parents Do.

Tapi, pengalaman pribadi hanyalah satu faktor penumbuh empati anak. Bocah-bocah dari keluarga dengan strata sosial-ekonomi lebih tinggi pun, memiliki kesempatan untuk menjadi anak yang peduli sesama. Meskipun memang lebih berat mendidiknya, karena Anda harus bersaing keras misalnya dengan televisi.

Kartun Anti-sosial
Semua orang tahu, nyaris tidak ada tayangan teve yang tidak mengajarkan sikap anti-sosial. Menertawakan orang gendut atau cacat, meledek penderitaan orang, obral umpatan, dan seterusnya.

Menurut penelitian Sri Andayani (1997) terhadap beberapa film kartun Jepang, seperti Sailor Moon, Dragon Ball, dan Magic Knight Ray Earth, muatan cerita kepahlawanan dalam film-film ini justru lebih banyak mengandung adegan anti-sosial (58,4%) daripada adegan pro-sosial (41,6%). Studi ini menemukan bahwa katagori perlakuan antisosial yang paling sering muncul berturut-turut adalah: berkata kasar (38,56%), mencelakakan (28,46%), dan pengejekan (11,44%). Sementara itu katagori prososial, perilaku yang kerapkali muncul adalah kehangatan (17,16%), kesopanan (16,05%), empati (13,43%), dan nasihat 13,06%).

Temuan tersebut sejalan dengan temuan YLKI, yang juga mencatat bahwa film kartun bertemakan kepahlawanan lebih banyak menampilkan adegan anti-sosial (63,51%) dari pada adegan pro-sosial (36,49%).

Karena itu, orangtua jangan sampai kehilangan anaknya lantaran ‘’direbut’’ kotak layar gelas.

Dongeng
Dongeng dan puisi adalah salah satu sarana baik dalam mengasah pertumbuhan kecerdasan emosi atau empati anak. ‘’Saya sering mendongeng dan membaca puisi di depan anak-anak. Dengan cara itu, saya ingin melatih kepekaan mereka,’’ ungkap Ratih Sanggarwati sebuah seminar pendidikan anak di YPM Salman ITB.

Dongeng terbaik bagi perkembangan empati anak-anak, menurut Ratih Sang, adalah kisah-kisah kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Misalnya, perilaku Rasulullaah yang rendah hati, pemaaf, sopan santun, adil, pemurah, bijaksana, penyabar, penolong, dan sifat-sifat baik lainnya, itu layak didongengkan kepada anak agar dicontoh. Dengan begitu, informasi perilaku positif itu akan tertanam pada benak anak sehingga pada gilirannya kelak membentuk karakter.

‘’Tentunya dalam tataran ini, orangtua harus pula memberi keteladanan. Jangan sampai kita mendongeng perlunya bersikap jujur, tetapi orang tua mengajarkan ketidakjujuran,’’ tandas Sang Duta Dhuafa DD.

http://www.dompetdhuafa.org/dd.php?w=indo&x=tips&y=detail&z=f19bf1ef7e282f7f9af84da32899c6ff

Tidak ada komentar: