02 Februari 2008

BAHASA KELAPARAN YAHUKIMO

Oleh Teguh Imawan


Seminggu lebih sudah kelaparan di Yahukimo melanda. Sepekan pula berton-ton bantuan pangan untuk saudara kita yang tinggal di pedesaan terpencil di Papua masih teronggok di Wamena. Berulang-ulang jua alasan cuaca alam yang tak bersahabat sebagai alasan utama tersendat dan mandeknya penyaluran makanan.Sementara itu, di Jakarta, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Aburizal Bakrie terus dan terus membantah kalau di Yahukimo telah terjadi kelaparan. Versi Menko Kesra, yang benar adalah gejala. Gejala. Gejala itu pun gejala awal. Realitas kelaparan perenggut puluhan nyawa itu dicoba ditutupi dengan memperhalus faktanya melalui jargon "rawan pangan" atau "gizi buruk".Lantas, sebagai bukti tidak adanya kelaparan di Yahukimo, Menko Kesra dengan yakin merinci gambaran dan kondisi "kondusif" Yahukimo, dengan mengatakan, "Babi di sana gemuk-gemuk, dan tanaman kubis tumbuh subur". Sebuah gelagat yang tak jauh beringsut dari gaya bahasa politik Orde Baru.Celakanya, Bupati Yahukimo Ones Pahebol, sehari setelah statemen Menko Kesra, menegaskan kembali bahwa babi gemuk dan kubis subur itu hanya dapat dijumpai di salah satu desa yang dikunjungi Aburizal Bakrie. Sedangkan sekitar 6 wilayah distrik lain yang tidak dijamah kunjungan Menko Kesra, warganya kekurangan pangan. Jumlah penduduk Yahukimo sendiri sekitar 230.000 jiwa dan tinggal terpencar. Antarwilayah lazim ditempuh dalam tiga hari-tiga malam jalan kaki. Tidak PekaPernyataan Menko Kesra mengungkapkan kenyataan kelaparan merupakan cermin betapa aparat pemerintah tidak peka dengan penderitaan rakyatnya. Kalau ditelusur, statemen Aburizal Bakri sedemikian itu bukanlah kali pertama. Masih segar dalam ingatan, semasa menjabat Menko Perekonomian, Aburizal Bakrie melontarkan statemen ganjil. Ketika konsumen elpiji gemetar dan geram dengan rencana kenaikan harga elpiji, Menko Perekonomian mengatakan, bila tak mampu membeli elpiji, ya tidak usah beli.Alih-alih mengakui realitas buram kalangan rakyatnya, justru hampir seluruh level aparat pemerintah serempak menolak kebenaran laporan media soal kelaparan. Media dituding membesar-besarkan masalah. Dengan demikian, fokus persoalan sesungguhnya digeser ke kecaman kepada perilaku media. Inilah taktik tua pejabat pemerintahan mendegradasi dan mengambinghitamkan liputan media sebagai pangkal persoalan "bangsa".Sorotan tajam terhadap reportase media mengangkat kelaparan diungkapkan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dalam sambutan HUT Ke-68 Kantor Berita Antara, Kalla mengatakan media massa perlu menyampaikan kritik kepada pemerintah secara objektif dan proporsional. Dicontohkan, terkadang berita cukup satu hari, jangan dibuat seminggu. Lebih jauh Kalla menilai semua itu merupakan konsekuensi dari persaingan media. Tapi, media massa diharapkan tetap memberitakan berita yang baik. Disebutkan bahwa good news is good news. Kalau bad news is good news, habis semua kita ini. Kalla menyoroti juga, kalau membaca-baca media, dari empat halaman, tiga halaman jeleknya. Kalau begini terus cara media -memanas-manasi bangsa ini-, kata Kalla, kita semua panas. Secara spesifik Kalla mengajak media memberikan semangat kepada bangsa untuk maju. Lantas, dicontohkan peristiwa kelaparan di Papua. Media seharusnya memberi solusi bagaimana misalnya bercocok tanam di sana.Tugas MediaBahwa media memberi solusi kelaparan bukanlah kewajibannya. Kewajiban media adalah melaporkan realitas apa adanya. Tugas itu merupakan manifestasi dari posisi mendasarnya sebagai alat memenuhi hak untuk tahu pembacanya (publik dalam skala luas). Ketika mengungkapkan kejadian, media massa yang objektif mengedepankan sisi kejujuran. Keakuratan pemberitaan media memang menjadi taruhan. Secara umum, tidak ada pengelola media yang bermaksud mengarahkan media berlawanan arah dengan arah tersebut.Dalam kasus kelaparan Yahukimo, memang warga meninggal akibat kelaparan adalah fakta, bukan rekayasa, fantasi, atau isapan jempol wartawan belaka. Bahwa jumlah korban meninggal, secara statistik bisa menjadi perdebatan bukan berarti, harus mementahkan kebenaran realitas. Kalau logika memuja angka ini diikuti, implisit ada kesadaran seperti ini, "mati sedikit aja kok repot sih". Terlepas dari besaran angka korban kelaparan, setelah fakta diungkap media, selanjutnya adalah tugas pemerintahlah bertindak cepat. Bila perlu menjadikan Yahukimo sebagai model langkah tanggap darurat Indonesia menanggulangi bencana kelaparan. Jadi, pemerintah merupakan garda depan mengatasi kelaparan yang menimpa rakyatnya. Sebenarnya, media massa membutuhkan kertebukaan akses informasi dari aparat pemerintah, khususnya pejabat yang wilayahnya bermasalah. Sungguh tidak patut pejabat daerah melakukan tindakan kekerasan sebagai upaya menutupi keadaan sebenarnya. Seperti yang dialami wartawan televisi Metro di Papua yang berambisi menyajikan berita tercepat dari lokasi kelaparan.—

Jawa Pos, Rabu, 21 Desember 2005, halaman Opinihttp://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=203078

Tidak ada komentar: