29 April 2008

Artis Pejabat Publik Rajinlah Membaca

Rosihan Anwar

Saya amat senang mendengar hasil penghitungan cepat Pilkada Jawa Barat, 13 April 2008, yang menyatakan pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade) meraih kemenangan sebagai juara nomor satu. Dengan begitu, Dede Yusuf (41) aktor- sutradara film, anggota DPR dari fraksi PAN (Partai Amanat Nasional), akan menjadi pejabat publik sebagai Wakil Gubernur Jabar mendampingi Ahmad Heryawan (41) dari PKS (Partai Keadilan Sejahtera) sebagai Gubernur.

Aneka ragam tafsiran terhadap Pilkada Jabar muncul, bergantung pada siapa yang berkomentar, entah pengamat politik, entah pemerhati soal masyarakat, entah ahli komunikasi. Sebagai orang yang puluhan tahun dalam bidang perfilman saya ingin bercerita tentang artis berubah profesi, menjadi gubernur, ketua menteri, hingga presiden. Contoh paling kentara tentulah Amerika dengan Hollywood, lalu India dengan Bollywood, kemudian Indonesia yang tidak punya wood-nya, kecuali Tangkiwood, tempat kediaman para artis film yang sudah jompo dan membutuhkan tunjangan pada hari tua yang tidak kunjung ada, lantaran memang negeri ini tidak mengenal bantuan social welfare, cuma punya elite dan oligarki yang selama 63 tahun merdeka kerjanya ngomong melulu dan garang berkorupsi. Mengutip kalimat bersayap Barack Obama ketika menjawab Hillary Clinton dalam sebuah debat kampanye pemilu, Shame on you, wahai elite dan politis negeri ini, mestinya kamu mengenal dan punya malu. Tapi, nyatanya tidak. Shame on you.

Gubernur California

Kita semua mengenal riwayat hidup aktor film laga dan olahragawan body-building, Arnold Schwarzenegger, aslinya lahir di Austria, kini dipilih menjabat Gubernur California, negara bagian Amerika paling besar dan kaya. Ronald Reagan, yang Presiden AS tahun 1980-an berangkat dari Gubernur California dan sebelum itu seorang aktor. California juga menghasilkan seorang Senator, yakni aktor dan tap-dancer, George Murphy. Bagi mereka yang sebaya dengan saya niscaya tidak asing aktris Helen Cahagen, istri aktor Melvyn Douglas, pada 1940-an, yang duduk sebagai anggota Senat AS.

Tapi, aktor-aktris film Hollywood boleh menjadi gubernur dan presiden. Mereka masih kalah dari India dan Bollywood di mana bintang film bisa menjadi Dewata yang disembah seperti halnya dengan diri aktor NT Rama Rao yang memainkan peran pahlawan mitologi dalam begitu banyak film laris, sehingga para pengagumnya di negara bagian Andhra Pradesh mendirikan sebuah candi untuk memujanya.

Pada 1980 aktor tersohor dengan nama NTR itu membentuk partai politiknya sendiri, Telugu Desam, bertanding dalam pilkada, meraih kemenangan, lalu menjabat sebagai Chief Minister atau Ketua Menteri (setara dengan Gubernur) negara bagian Andhra Pradesh yang berpenduduk sekitar 50 juta jiwa.

Saya baca dalam buku Dr Shashi Tharoor, kolumnis terkenal dan mantan Wakil Sekjen PBB untuk Komunikasi dan Informasi Publik, berjudul The Elephant, The Tiger & The Cellphone (New Delhi, 2007) yang dikirim oleh Kuasa Usaha KBRI New Delhi, Rizali W Indrakusuma, bahwa NTR tadi bukanlah aktor film India pertama yang dipuja oleh para penggemarnya. Kehormatan itu jatuh kepada diri MGR atau MG Ramachandra dari negara bagian yang berbatasan dengan Andra Pradesh, yakni Tamil Naidu. Kira-kira bersamaan dengan waktu aktor George Murphy jadi anggota Senat AS pada 1964, parpol Dravida Munnetra Kazhagam (DMK) menggunakan dunia film bahasa Tamil untuk meningkatkan popularitasnya. Pemimpin parpol itu, CN Annadurai, dikenal sebagai Anna punya hubungan lama dengan industri film Tamil dan pembantu utamanya, M Karunanidhi, adalah penulis skenario yang prolifik atau banyak karyanya. Aktor laga MGR adalah daya tarik parpol DMK. Pada 1967, DMK bertanding dalam pilkada. DMK menang dan Anna menjadi Ketua Menteri, sedangkan MGR tetap tinggal dalam dunia film.

Ketika Anna meninggal dan Karunanidhi jadi Ketua Menteri, MGR mulai bertanya sendiri kenapa dia harus jadi pemain biola nomor dua, padahal dialah atraksi terbesar dalam dunia film. MGR lalu mendirikan partai baru dan dalam pilkada berikut memperoleh mayoritas kursi dewan perwakilan daerah. MGR terpilih menjadi Ketua Menteri. Menjelang berakhir kariernya dia menderita stroke, tidak kuasa lagi bicara, dan lumpuh. Namun, para pengagumnya menaruhnya di kursi di sebuah pentas tinggi, berkacamata hitam, sambil rekaman pidato-pidatonya dari masa lalu diputar kembali. Publik yang berada jauh dari pentas mengira MGR yang berpidato di depan mereka. Tipuan ini hanya berhasil untuk sementara waktu. Akhirnya, dia meninggal dunia dan tempatnya sebagai Ketua Menteri digantikan oleh bekas aktris utama pendampingnya atau leading lady, yaitu Jayalalitha.

Pada 2007, parpol Samajwadi di negara-bagian Uttar Pradesh ingin mengajukan bintang film tersohor dan superstar, Amitabh Bachchan, untuk menjadi Presiden India.

Tapi, Amitabh, yang pernah jadi anggota parlemen mewakili Congress Party, menjadi begitu kecewa terhadap dunia politik, sehingga dia berhenti sebagai anggota parlemen, lalu kembali ke dunia akting dan film. Begitulah cerita bintang film di India.

Harapan Baru

Di Indonesia juga terdapat aktor-aktris film yang terjun ke dunia politik. Ada yang berhasil, ada yang gagal. Marissa Haque, yang sudah jadi anggota DPR untuk PDI-P gagal terpilih sebagai Wagub Banten. Nurul Arifin dari Partai Golkar tidak terpilih jadi anggota DPR. Tapi, terpilihnya Rano Karno sebagai Wakil Bupati Tangerang dan Dede Yusuf sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat meniupkan napas dan harapan baru.

Kemenangan kedua artis itu dielu-elukan sebagai kejadian politik sangat penting, menjelang Pilpres 2009 sebagai orang yang menginginkan perubahan (bukannya latah dengan Barack Obama yang bersemboyan Change alias perubahan).

Saya sambut baik gejala artis beraspirasi dan berambisi untuk menjadi pejabat publik. Bila maknanya ialah mengabdi dan melayani rakyat kecil, maka itu adalah tujuan yang mulia.

Tapi, kalau sebagai paitua yang telah berusia 86 tahun dibolehkan memberikan saran atau nasihat, saya ingin menganjurkan kepada artis yang jadi pejabat publik, supaya meng-upgrade kapasitas intelektualnya dengan cara rajin membaca buku. Terus mendidik diri sendiri, meluaskan wawasan, agar jangan dianggap pejabat publik yang mediocre, sedang-sedang, cukupan saja. Penulis adalah wartawan senior. Suara Pembaruan 28/4/2008

Tidak ada komentar: