02 Februari 2008

ERA PERKEMBANGAN TV LOKAL

Oleh Teguh Imawan

Era percepatan perkembangan televisi (TV) lokal segera tiba. Karena hari-hari ini, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bersama Komisi I DPR giat menggodok finalisasi rancangan peraturan pemerintah tentang lembaga penyiaran swasta. Dalam rancangan yang tinggal mengesahkan ini terkandung pasal yang melarang adanya siaran televisi nasional. Jangkauan siar setiap televisi swasta akan dibatasi, seperti radio swasta.
Ade Armando, anggota KPI Bidang Pemantauan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran, memandang regulasi ini untuk menghindari penyiaran yang sentralistik. Sesuai amanat UU No 32/2002 tentang Penyiaran, saluran televisi swasta nasional harus berakhir tahun 2005.

Ciri TV Nasional
Hingga kini, sebanyak 10 TV swasta yang dianggap bersiaran nasional. Kesemuanya berkantor pusat di Jakarta, yakni: RCTI, SCTV, TPI, Indosiar, Trans, Lativi, TV7, Antv, Global, serta Metro. Sejatinya, cakupan wilayah siaran (coverage area) setiap TV berbeda-beda jangkauannya. Namun, mereka berjuang mati-matian agar minimum menembus langit sembilan kota: Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, dan Makasar.
Berbekal itulah, pengelola TV swasta merasa sah disebut TV Nasional. Kengototan TV nasional itu sangat pragmatis sifatnya. Karena memang hanya 9 kota itulah yang dijadikan sampel lembaga rating bernama AC Nielsen saat memotret profil kepemirsaan (viewership) TV swasta di Indonesia.
Bagi orang TV swasta, rating itu dewa. Sosok penentu segala aspek penyiaran. Rating bukan semata alat mengukur jumlah pemirsa program TV, ia telah menjadi piranti tunggal mengkalkulasi formula harga dan tarif iklan. Rumusnya, rating tinggi, harga iklan mengikuti. Melalui rating, pengiklan makin jitu dan cermat menempatkan iklan sesuai target marketnya. Capaian rating juga menjadi selling point program production house. Gengsi stasiun TV juga dipertaruhkan via rating. Pendek kata, rating menjadi kiblat pengelola TV swasta.
Itulah sebabnya, tipe program TV berating tinggi diburu TV. Kalau perlu, menjiplaknya. Sukses sinetron dakwah (lazimnya memanfaatkan judul Ilahi misalnya), tak pelak membuat stasiun lain beradu lekas memproduksi. Tentu, layar kaca banjir tayangan serupa.
Cara berpikir mengekor (epigon) sah-sah saja, senyampang programnya mendatangkan rating. Secara umum, selama 16 tahun TV Swasta mengudara, selera mayoritas pemirsa belum beranjak dari program sinetron. Kalaupun bergeser, paling itu hanya berjalan ke ruang tema yang berbeda.
Dalam sebulan terakhir ini saja, sinetron keluarga (Bawang Merah Bawang Putih di RCTI), Sinetron Dakwah (Rahasia Ilahi TPI), serta sinetron misteri (TV Legenda TPI) senantiasa masuk 10 besar top rating seluruh stasiun TV. Padahal, pemirsa tak kurang disuguhi 1000 mata acara oleh 10 TV setiap minggu.

TV Lokal Unggul
Sentralisasi dan penyeragaman selera tayangan amatlah disayangkan. Bimo Nugroho dalam bukunya berjudul Dead Media Society (2005) mengungkap, para penyanyi bersuara merdu dari Maluku dan Papua, bila ingin sukses atau tenar di layar kaca, harus jauh-jauh dan susah payah datang ke Jakarta, ikut AFI (Indosiar) atau Indonesian Idol (RCTI), di mana televisinyapun harus membayar royalti ke Meksiko (AFI) dan Amerika Serikat (Indonesian Idol). Kenyataan ironis dan sebetulnya menyedihkan.
Ditambahkan pula, di masa depan, TV lokal mampu memperkuat budaya Indonesia yang bhineka. Dialek lokal, kesenian daerah, dan bahkan kearifan serta kecantikan lokal akan diakui sebagai identitas yang membanggakan. Mungkin sekarang warga Surabaya belum merasa bangga kalau melihat JTV bersiaran dengan bahasa Suroboyoan. Namun, perlahan tapi pasti, niscaya tayangan semacam inilah yang dibutuhkan.
Apalagi secara teknologi dan kalkulasi bisnis, ongkos produksi program semakin dan semakin murah. Hal ini memungkinkan beragamnya isi siaran dan beranekanya kanal yang mewadahi budaya dan karakter warga lokal. Framen lokalitas itulah yang kini sedang dibidik oleh BaliTV, JTV, YogjaTV, DeliTV, BantenTV, RiauTV, MakasarTV, dan puluhan TV lokal lainnya di Indonesia.
Apresiasi pemirsa terhadap program TV lokal jelas menguat di Surabaya Jatim dan Denpasar Bali. Berdasar data AC Nielsen, pemirsa di Surabaya lebih banyak menonton tayangan JTV dibanding MetroTV. Di periode yang sama, Juli sampai minggu pertama Agustus 2005, BaliTV mampu mengalahkan Lativi, Antv, TPI, Metro, TVRI, dan Global dalam hal meraih pemirsa di Denpasar.
Jelaslah, fajar telah menyingsing untuk TV lokal. Modal ini membutuhkan penguatan kualitas program lokal, bukan sentralisasi mata acara. Dan, juga bukan “pegadaian tayangan” tatkala musim pilkada tiba. Semoga saja.—


Jawa Pos News Network (JPNN), 24 Agustus 2005, halaman 4 (Opini)

Tidak ada komentar: