06 Juli 2008

Mimpi Jadi Bintang

Sejak remaja Rizka Widianti (20) tertarik dunia hiburan dan panggung. Motivasinya sederhana, dikenal banyak orang. Dia menekuni aktivitas di dunia model sejak umur 17 tahun. Ketika itu, remaja yang telah menamatkan sekolah menengah atas itu terlibat dalam produksi dua sinetron, Rahasia Cinta dan Jaka Tingkir.

Lomba model di Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang diikuti para remaja. SP/Luther Ulag

Hobi tampil itu kemudian mengantar langkahnya belajar di OQ Modelling School. "Memang hobi, juga karena nggak ada kegiatan apa-apa, artinya nggak kuliah, jadi langsung terjun ke dunia modelling aja," kata Rizka.

Aktivitasnya di dunia hiburan mengundang ketertarikan untuk berprofesi sebagai model. Dia bergabung di OQ Modelling sejak April 2008, meski sebelumnya sudah terdaftar di salah satu agency model. Sekolah model, menurutnya, membantunya membangun kepercayaan diri. "Percaya diri itu harus. Nomor satu. Kalau malu-malu nggak bisa tampil, yang ada mati kutu," ujarnya terbahak.

Ida bukan siswa sekolah model itu. Ia ibu dari Jasmine (8), seorang siswa di sekolah model itu. Ia mendukung permintaan anaknya masuk sekolah model karena menilai aktivitasnya positif. Sekolah model mendorong anaknya tampil percaya diri di muka umum. "Jasmine anak yang berani, supel, nggak pemalu. Tapi, susah senyum. Salah satu alasan saya masukin supaya dia tebar pesona," Ida menjelaskan.

Anaknya, kata Ida lagi, mengenal dunia model dari tayangan televisi. Jasmine kecil sudah bisa menyebutkan dengan jelas cita-citanya, ingin menjadi model sekaligus desainer. Ida memfasilitasi keinginan itu.

Salah satu calon finalis Puteri Indonesia, Zivanna Letisha Siregar, mengakui keikutsertaannya dalam pemilihan Puteri Indonesia didorong hobinya di bidang model. Ia mulai terjun ke dunia model sejak usia 14 tahun dengan bergabung di sekolah model John Casablancas. Sejak saat itu, hobinya berkembang sehingga kerap menjadi model di sejumlah acara pergelaran busana.

Keinginan mengikuti ajang pemilihan Puteri Indonesia, diakuinya sudah muncul sejak usia SMP. Tak mengherankan, begitu usianya menginjak 19 tahun Zizi, nama panggilannya, langsung mendaftar.

Seorang model dari agency Imelda Zanim, Lili Angeriani Panjaitan (29) mengaku sudah sembilan tahun bergelut di dunia model. Awalnya, ia menjadi model di beberapa iklan selama tiga tahun. Lili mengaku tidak melamar, namun didatangi sebuah agency pada suatu acara pergelaran fashion. Sejak itu karier perempuan dengan tinggi 175 sentimeter itu meningkat menjadi model catwalk.

Tanpa pendidikan formal, tawaran di dunia hiburan terus bergulir. Tak heran ia ketagihan berkarier di dunia itu. Ia pernah bermain dalam sinetron Inikah Cinta dan Perempuan.

Sama halnya dengan Lili, model dari NC Manajemen milik Nonny Chirilda, Paula Verhoeven, mengatakan selama ini ia ingin eksis di dunia model. Ia berharap terkenal sebagai seorang model. Berbeda dengan yang lain, ia belum ingin merambah ke dunia hiburan lainnya, seperti menjadi pemain sinetron atau presenter, karena untuk menjadi model profesional saja sudah membuatnya kelimpungan.

Model freelance dari Sumatera Selatan, Kiki (25), mengawali kariernya dengan mengikuti ajang Bujang Gadis di Sumatera Selatan, mirip dengan pemilihan Abang None di Jakarta. Keluar sebagai salah satu finalis, ia mencoba terjun dunia model. Mahasiswi kedokteran ini harus rela berlama-lama kuliah karena profesi modelnya menyita waktu.

"Harapan saya ingin menjadi presenter untuk acara-acara kesehatan, apalagi dengan latar belakang saya yang mengambil studi kedokteran. Saya ingin menjadi seperti Lula Kamal," ucapnya.

Menggiurkan

Tawaran menjadi bintang memang begitu menggiurkan. Menjadi model dipercaya sebagai batu loncatan untuk terjun ke dunia hiburan, entah itu main sinetron, menjadi presenter, atau bahkan pemain film layar lebar. Para remaja pun berbondong-bondong melamar di sejumlah agency yang diyakini bisa memenuhi harapan memberi jalan selebar-lebarnya untuk menjadi bintang.

Pemilik OQ Modelling, Okky Asokawati, mengatakan kecenderungan remaja berlomba-lomba menjadi model bisa bernilai positif. Profesi model, ujarnya, adalah jalan masuk ke profesi lain. Pekerjaan itu bisa dipakai sebagai sarana untuk mengejar karier yang diimpikan.

"Melalui model, orang bisa ke public relation, marketing, presenter. Profesi model itu pintu gerbang ke profesi lain. Jadi, oke-oke saja selama dilakoni dengan benar," ungkap Okky.

Menurutnya, persaingan dalam dunia model tergolong ketat. Saat ini, pemakai jasa model atau agency umumnya mencari sosok model muda. Fenomena itu terakomodasi dengan kemunculan deretan nama baru di dunia ini. Agency, katanya, memiliki keleluasaan memilih model yang sesuai kriteria mereka.

"Kalau dulu seseorang bisa bertahan sampai 10 tahun di model, mungkin sekarang tidak selama itu, karena gelombang baru cepat sekali datangnya dan ada kebosanan dari pemakai jasa model," ia menjelaskan.

Pemilik sekolah model di tiga kota besar ini mengakui nilai se- orang model tidak hanya dilihat dari segi fisik. Selain kepribadian, seorang model juga memerlukan wacana pengetahuan yang luas. Seseorang bisa bertahan menjadi model jika memiliki etos kerja yang kuat serta memfokuskan diri pada prestasi. Para model yang berorientasi kepada kehidupan sekunder, menurutnya, sulit menggapai puncak karier.

Cara Masuk Akal

Terlahir sebagai bintang merupakan impian dan harapan banyak orang. Tak heran bila banyak gadis muda mengejar status bintang dengan berbagai cara. Ketenaran atau nama besar biasanya dekat dengan kehidupan artis atau selebriti. Sebagian dari mereka menganggap ketenaran sebagai takdir hidup. Padahal apabila jujur, di balik ketenaran selalu terdapat perjalanan panjang yang harus dilalui. Para artis dan selebriti harus memulai karier dari bawah, yakni dari ajang atau kontes kecantikan serta pemilihan model.

Kontes kecantikan atau yang umum dikenal sebagai ajang mencari bakat adalah tempat yang paling tepat untuk menjadi orang terkenal. Ajang tersebut mulai dikenal sejak era 1966 atau masa Orde Lama. Di Jakarta, kontes kecantikan tersebut dimulai saat Ali Sadikin menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Kala itu, Ali Sadikin menyelenggarakan pemilihan Abang None Jakarta (Abnon).

Seiring dengan tuntutan dunia hiburan, ajang mencari bintang pun mulai berkembang. Sebut saja kontes kecantikan Puteri Indonesia, Miss Indonesia, dan pemilihan model sampul untuk sebuah majalah. Seiring dengan itu, bermunculan agency model yang menyalurkan wanita cantik dan pria tampan ke dunia hiburan.

Menjamurnya ajang dan agency model, khususnya di Jakarta, menurut Rae Sita Supit, tokoh di bidang public relation yang pernah terjun membintangi film, merupakan bagian dari kebutuhan dunia hiburan. Contohnya, banyaknya sinetron baru di televisi serta bangkitnya perfilman Indonesia.

"Wanita cantik dan pria tampan memang dibutuhkan industri hiburan. Jadi, tidak salah bila kontes kecantikan atau agency model tumbuh pesat," tutur Rae Sita, Selasa (1/7).

Bagi pemeran film Kampus Biru itu, cantik dan tampan tidak cukup dijadikan modal mencari ketenaran. Kecerdasan dan inner beauty adalah faktor utama seseorang bisa menjadi terkenal.

Sayangnya, selain ajang yang dianggap berbobot terdapat juga ajang "main-main" untuk menjadi terkenal dengan cara instan. Cara yang ditempuh ajang "main-main" selalu menyalahi norma-norma yang ada. Berkaitan dengan hal itu, mantan Abang DKI Jakarta 2007 Ahmad Sukmawan mengatakan, ketenaran yang diperoleh melalui jalan pintas biasanya tidak lama.

Mantan None DKI Jakarta 1995, Fifi Aleyda Yahya, yang kini memilih terjun ke dunia broadcasting (penyiaran), menyarankan remaja menempuh cara yang masuk akal dan tidak mengorbankan masa depan mereka. Untuk menjadi orang terkenal tidak harus selalu menjadi artis atau pemain sinetron. Banyak profesi yang bisa membuat seseorang dikenal atau dipandang oleh publik. "Citra menjadi bintang dengan cara instan itu salah besar. Tidak ada ketenaran atau keberhasilan yang bisa diperoleh dengan cara instan. Setiap orang harus berusaha untuk bisa mencapai titik keberhasilan tersebut," katanya. [NCW/DGT/EAS/A-18]


"Agency" Jadi Pilihan Instan

Profesi model menjadi salah satu pilihan pekerjaan, misalnya untuk menjadi model dalam lomba foto, promosi produk, dan peragaan busana. SP/Alex Suban

Rumah tembok bercat putih di kawasan Cawang, Jakarta Timur itu, sedang sepi siang itu. Dari luar terkesan seperti rumah biasa. Namun, jika mengamati teliti, berimpitan dengan pagar bisa dilihat papan hitam bertuliskan Rumah Produksi Mandiri (RPM) Multimedia.

Tempat itu menawarkan jasa kepada para remaja untuk menjadi model dan pemain sinetron. Walau letaknya bukan di jalan utama di Jalan Dewi Sartika, tidak terlalu sulit mencarinya.

Biasanya, banyak remaja bolak-balik masuk-keluar tempat itu. Pagarnya yang hitam dengan gerbang terbuka lebar, menyiratkan siap menerima kaum muda yang ingin terjun ke dunia hiburan.

Memasuki ruang tamunya, langsung terdengar sapaan hangat dari pegawainya. Di tembok yang berlapiskan kayu cokelat, terlihat foto-foto selebriti yang pernah bertandang ke tempat itu. Hanya tampak tiga pegawai bagian produksi yang duduk sambil mendengarkan musik siang itu.

Begitulah keadaan RPM Multimedia jika tidak ada casting. Berbeda dengan RPM Multimedia, salah satu agency di rumah susun di Tebet, Jakarta Selatan, acap terlihat dipadati anak-anak hingga remaja. Agency yang berlokasi di lantai dasar itu, tidak dilengkapi papan nama.

Siang itu, misalnya, akan dilangsungkan casting untuk iklan sebuah detergen. Yang datang berdesakan. Dalam ruang yang luasnya tiga kali dua meter itu, para calon model rela mengantre untuk mendapatkan kesempatan casting. Sebagian duduk di dua kursi panjang yang berhadapan, sebagian lagi terpaksa menunggu di teras. Di antaranya, bukan calon model yang menunggu giliran casting, namun orang-orang yang ikut mengamati wajah-wajah cantik dan tampan itu. Siapa tahu ada di antaranya yang bisa ditawari terjun ke dunia hiburan, entah itu jadi model iklan ataupun main sinetron.

Arman, misalnya. Bermula bekerja sebagai juru rias artis, ia memberanikan diri menawarkan jasa agency independen. Ia memiliki foto-foto remaja yang ia tawarkan ke berbagai rumah produksi (PH, production house). Ia dan teman-temannya biasa melakukan hal itu. Beberapa dari mereka membawa kamera digital, siap menodong siapa saja untuk ditawari menjadi bintang.

Maraknya Tawaran

Pemandangan seperti itu kini dijumpai hingga di pelosok Jabodetabek, termasuk di Perumnas II Bekasi. Ada yang bertahan, ada yang hanya seumur jagung, seperti dialami agency di Perumnas II Bekasi itu.

Semaraknya dunia hiburan terutama televisi, di negeri ini, yang terus-menerus menampilkan wajah-wajah cantik nan segar, menjadi daya tarik utama remaja putri untuk mencoba peruntungan di bidang itu. Siapa tahu bisa menjadi model iklan, mencicip tampil di sinetron, atau jadi salah satu pembawa acara dari sekian banyak tayangan yang muncul tak habis-habisnya.

Kenyataan itulah yang dilihat sebagai peluang pasar bagi RPM Multimedia dan agency lain. RPM Multimedia, misalnya, walau menyebut diri "rumah produksi", tidak menjalankan aktivitas sebagaimana sebuah production house (PH). Seperti dikatakan BB, salah seorang karyawannya yang enggan disebutkan nama lengkapnya, kantornya mencoba menjembatani kebutuhan-kebutuhan yang dicari PH atau program- program TV dengan model yang bersangkutan.

Agency itu lebih memprioritaskan aktivitasnya ke pencarian model iklan. Namun, tak tertutup kemungkinan juga mencari bakat yang bisa disalurkan ke sinetron atau jadi presenter. Maraknya dunia periklanan yang membutuhkan wajah-wajah muda dan segar membuat agency itu gencar mencari mangsa remaja.

Biasanya mereka mengawalinya dengan membuka iklan di sejumlah tabloid remaja seperti Gaul dan Mamamia. Untuk penerimaan model atau calon artis, agency itu mematok umur 5-24 tahun.

Pemasangan iklan dilakukan terutama setiap ada kebutuhan shooting atau proyek baru. Pelamar atau calon model harus menyertakan foto close up atau setengah badan, dan kadang-kadang seluruh badan. Agency kemudian menyeleksi bersama-sama dengan staf dari PH atau pencari bakat.

Seleksinya bisa berupa berakting di depan kamera atau menyanyi, atau menggali kemampuan lain. Bakat yang dicari, disesuaikan dengan kebutuhan iklan yang ditawarkan.

Tak jarang, agency "berburu" calon di sejumlah mal dan kampus. Namun, sedang memerlukan atau tidak, setiap hari ada saja remaja yang datang ke agency itu, minimal satu hingga dua pelamar.

RPM Multimedia sendiri saat ini lebih memusatkan perhatian memenuhi kebutuhan sinetron mencari wajah-wajah baru. Sinetron terbukti tidak pernah mati. Tak menutup kemungkinan juga model-model tersebut digaet untuk bermain sinetron.

"Yang mendaftar ke sini kebanyakan remaja yang baru lulus SMA. Banyak remaja sekarang yang susah mencari kerja, jadi kenapa tidak mencoba jalur yang menjanjikan ini. Banyak remaja yang ingin sekali menjadi bintang dengan cara instan," ujar karyawan lain yang juga tak mau disebut namanya. [DGT/A-18]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/07/06/index.html

Tidak ada komentar: