Artikel di Kompas, Minggu (6/4), ”Fasisme Media dalam Demokrasi SMS” oleh Bapak F Budi Hardiman, staf pengajar STF Driyarkara, perlu diklarifikasi. Kami menyesalkan atas ketidakjelian penulis dalam mengamati program acara ”Mamamia” dan ”Stardut” yang ditayangkan Indosiar, sehingga dapat menimbulkan persepsi yang keliru.
Tulisan dimaksud terkesan menyamaratakan program ”Mamamia” dan ”Stardut” dengan program reality show lainnya yang menggunakan SMS dalam memilih atau mengeliminasi peserta. Padahal sebagaimana kita maklumi bahwa ”Mamamia” dan ”Stardut” sama sekali tidak menggunakan SMS, melainkan menggunakan juri vote lock yang jumlahnya 100 orang, berasal dari berbagai latar belakang profesi yang berbeda.
Penggunaan juri vote lock merupakan terobosan baru yang dilakukan Indosiar dalam memilih dan mengeliminasi peserta ”Mamamia” dan ”Stardut”. Sistem ini kami anggap lebih obyektif dibandingkan dengan sistem SMS, karena satu orang hanya berhak satu suara (one man one vote). Gufroni Sakaril Humas Indosiar
http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.16.0100239&channel=2&mn=158&idx=158
Tidak ada komentar:
Posting Komentar